Memaknai Tahun Baru

Setiap pergantian tahun, banyak sekali orang yang merayakannya dengan mengadakan pesta. Apapun namanya pesta itu, mereka ingin mengabadikan momen pergantian tahun dengan sesuatu yang mengesankan. Hari ini, tanggal 1 Januari, adalah hari pertama pada tahun baru 2013. Dan saya ingin mengulas sedikut tentang bagaimana memaknai tahun baru.

Pesta kembang api dan petasan adalah hal yang mungkin paling banyak dilakukan orang menyambut tahun baru. Mereka yang telah menyiapkan kembang api dan petasannya, beramai-ramai memulai pestanya pada pukul 00.00 tanggal 1. Duh, ributlah suaranya… Dan, saya pun akhirnya terbangun karena kegaduhan itu.

Kalau dipikir-pikir, menurut saya, pesta kembang api yang sedemikian wah itu mubazir. Coba saja kalau uangnya disisihkan untuk membantu yang membutuhkan, kan bisa jadi tabungan di akhirat kelak. Tapi, ya sudahlah, mereka barangkali sudah tidak peduli dengan lingkungan sosialnya yang kian hari kian mengenaskan.

Pesta sex! Na’udzubillah, barangkali ini salah satu hal yang paling memprihatinkan terjadi pada generasi muda kita. Para gadis mengorbankan keperawanannya dengan dalih kesetiaan kepada pacarnya. Pacarnya pun demikian, dengan dalih menunjukkan cintanya, dia bermaksud merayakan tahun baru dengan menodai pacarnya. Edan kabeh! Semua itu hanya nafsu bejat yang ada… Makanya jangan pacaran.

Tengok saja apotik-apotik di malam tahun baru, kemungkinan besar mereka kehabisan stok kondom! MasyaAllah, pertanda apa ini……? Kita hanya bisa berharap, di tengah riuh rendah suara lengkingan terompet tahun baru, semoga saja malaikat tidak ikut-ikutan niup terompet…

Dua pesta di atas adalah contoh yang menurut saya salah dalam memaknai tahun baru. Mengapa? Karena bagi saya, tahun baru atau akhir tahun (sama saja, namanya juga pergantian tahun) hanya bisa dimaknai dengan dua hal: refleksi dan resolusi.

Dengan refleksi (bukan pijat refleksi-red), kita melihat kembali apa yang terjadi setahun silam. Di mana saja kita mengalami kegagalan serta hal positif apa yang kira-kira bisa kita kembangkan. Oleh karena itu, pas banget kalau untuk melakukan refleksi, kita mengikuti acara-acara semacam pengajian, ceramah akhir tahun, dan sebagainya.

Setelah melakukan refleski, sangat baik jika kita membuat resolusi. Resolusi berisi cita-cita yang ingin kita capai dalam tempo satu tahun ke depan. Usahakan bentuknya kongkret, bermanfaat, dan tidak melanggar norma. Kongkret artinya resolusi itu harus jelas, tegas, dan masuk akal untuk diwujudkan. Bermanfaat artinya resolusi harus ada manfaatnya, minimal untuk kebaikan pribadi. Syukur kalau manfaatnya bisa berkembang bagi keluarga dan orang-orang sekitar. Tidak melanggar norma berarti bahwa resolusi itu bukan berupa hal-hal yang dilarang, baik oleh hukum yang berlaku, adat, dan yang terpenting adalah norma agama.

Sekian dulu coretan fajar kali ini. Masih di Cipedes Tengah, 01/01/2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Memaknai Tahun Baru

  1. Ping balik: Stok Kondom Masih Banyak | Di sini Cisini, di situ Cisitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s