5 Adaptasi Penting Mahasiswa TB

Menurut saya, ini bukan penemuan  baru. Saya hanya menyarikan apa yang saya jalani beberapa hari ini semenjak menyandang status sebagai mahasiswa pasca-sarjana (beda dengan mahasiswa diploma atau sarjana) Tugas Belajar (TB). Jadi, bagi saya pribadi ada beberapa adaptasi penting yang harus dilakukan sesegera mungkin. Untuk saat ini, setidaknya ada 5 adaptasi yang menurut saya penting bagi mahasiswa TB seperti saya.

1. Adaptasi dengan textbook berbahasa Inggris

Tidak bisa dimungkiri, bahasa Inggris harus jadi makanan sehari-hari jika kuliah S2. Apalagi kalau S3… Jujur saja, jika bahasa Inggris kita pas-pasan, rasanya bakalan mabok. Analoginya ya seperti orang sesak nafas. Butuhnya bisa bernafas lega, eh malah saluran pernafasannya tidak lancar. Seseg, kan?

Begitulah dengan kuliah S2. Buku-buku dan jurnal-jurnal hampir semuanya berbahasa Inggris. Dosen memberikan bukunya (dalam bentuk softcopy) kemudian menyuruh mahasiswanya mempelajari sendiri untuk dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya. Istilahnya belajar mandiri. Jadi, minggu-minggu pertama usahakan untuk intensif membaca semua tulisan berbahasa Inggris. Paksakanlah, biarpun yang terjadi adalah rasa pening di kepala. Bismillah, jika kita masih disayang Tuhan, insyaAllah bulan kedua rasa pening bisa berkurang. Amiiin.

2. Adaptasi dengan hidup sederhana

Mungkin, dulu sebelum kuliah dengan status Tugas Belajar (TB), kita terbiasa dimanjakan dengan makanan yang disediakan istri. Tapi kini, sebagai anak kos yang menghuni satu petak kamar sendiri, lupakan dulu tentang makanan enak. Yang penting saat ini adalah makanan sederhana tetapi cukup gizi. Tempe, tahu, telur, dan sayur menurut saya sudah memadai. Kalaupun sekali-kali makan sate, ayam cobek, ikan panggang, dan sebagainya, itu sah-sah saja. Oiya, jika hobi makan kerupuk tidak ada salahnya kok makan dengan lauk kerupuk. Saya juga suka kok. Tapi gizinya kurang lho, hanya rasanya yang kriuk.. Dan yang tak kalah penting, cukup minum. Tidak bisa tidak

3. Adaptasi dengan sekitar

Ya, sebagai mahasiswa, pada dasarnya kita itu elemen tak terpisahkan dari masyarakat. Oleh karenanya, jangan menutup diri dari masyarakat. Sebagai muslim, sering-seringlah sholat berjamaah di masjid. Bergaullah, tularkanlah ilmu yang sudah kita miliki kepada sesama. Jangan ragu-ragu, toh ilmu yang kita gunakan nanti juga harus kita abdikan kepada masyarakat.

Sarana pergaulan yang paling efektif adalah olah raga. Manfaatkan fasilitas-fasilitas olah raga yang dimiliki oleh kampus, seperti lapangan futsal. Nah, kebeteluan saya juga ada rutinan main futsal dengn teman-teman kampus. Sabtu pagi di Sabuga. Bagi yang belum tahu, Sabuga adalah Sasana Budaya Ganesha. Selain gedung serbaguna, ada juga lapangan untuk berbagai aktifitas olah raga. Untuk masuk ke lapangan olah raganya, kita diminta menunjukkan kartu mahasiswa. Kalaupun tidak bisa, semisal orang umum, harus merogoh kocek Rp. 2000,00.

4. Adaptasi dengan peningkatan ibadah

Sebagai mahasiswa, kita jelas tidak lagi diikat dengan jam kerja dari 07.30 s.d. 16.30. Oleh karena itu, manfaaatkan itu untuk peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah kita. Bagi seorang muslim, cobalah untuk sesering mungkin membaca Quran. Sholat dhuha juga diamalkan, ya setidaknya sebelum berangkat kuliah. Sholat malam juga, jangan lupa. Jadi ingat sebuah kutipan yang saya dapat dari twitter:

If you want something and you’re not praying tahajjud for it, then in reality you don’t want it.  – Sheikh Yasir Qadhi

5. Adaptasi dengan aktivitas tambahan

Bisa jadi, meskipun status kita mahasiswa TB, masih ada kegiatan lain yang menjadi sampingan kita. Sekali lagi, bisa jadi. Karena memang kenyataannya ada dua macam mahasiswa TB, satu murni kuliah dan satu lagi kuliah nyambi-nyambi sedikit.

Kalau dulu sampingan kita kerjakan di sela-sela pekerjaan utama, sekarang sampingan itu kita kerjakan di sela-sela kegiatan belajar kita. Jadi bedanya, kerja otak kita diperas dua kali lipat.

Selain lima adaptasi di atas, ada yang mau menambahkan?

Ditulis di Cisitu, 26 September 2012. Ketika anak istri belum menyusul ke Bandung… Hehe..

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s