Badai Pasti Berlalu

Pekan pertama perkuliahan dengan sangat terpaksa tidak bisa saya ikuti. Bukan karena saya ingin menambah liburan, tetapi karena tiba-tiba anak bungsu saya masuk IGD. IGD, singkatan dari Instalasi Gawat Darurat. Nah, lho! Kisahnya diawali pada Senin malam, 21 Januari. Si bungsu bangun dari tidurnya, menangis tidak mau berhenti. Hingga tengah malam, kami amati ternyata ada gejala yang tidak wajar. Ulu hatinya terlihat kembang kempis sangat dalam dan cepat. Si bungsu sesak nafas!

Kami pun memutuskan untuk segera membawanya ke IGD RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Saya berharap, semoga anak saya segera mendapat penanganan yang cepat dan pas. Selasa dini hari, sekitar pukul setengah satu, kami pun sampai di IGD. Saya membawa serta anak sulung saya yang masih berumur 4 tahun. Dan, ternyata si sulung tidak diperkenankan masuk. Memang begitulah aturannya, anak sehat di bawah 13 tahun tidak boleh masuk ke ruang perawatan, apalagi ruang IGD.

Ya, bagaimana lagi… Saya tidak punya pilihan, soalnya di Bandung baik saya atau istri  tidak memiliki kerabat. Terpaksalah anak-anak kami bawa kemana saja kami berdua  pergi. Begitulah, kemudian saya kembali ke rumah dan dengan rasa ewuh pakewuh, saya telepon ibu kos di pagi buta. Beruntung beliau baik hati, berkenan saya titip si sulung untuk ditemani melanjutkan tidur.

Agak berbeda kondisinya di rumah sakit swasta di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pernah waktu itu si bungsu masuk IGD RS Bala Keselamatan. Selain langsung ditempatkan di ruang rawat inap, si sulung juga diizinkan masuk ke ruang perawatan. Dengan begitu, saya tidak bingung mau menitipkannya ke siapa… Di Palu saya juga tidak memiliki kerabat, hanya rekan kantor dan tetangga-tetangga.

Kembali ke IGD RSHS.. Singkat cerita, akhirnya kami mendapatkan kamar perawatan setelah pukul 8.00 WIB pagi harinya.. Jadi, bukan singkat. Lamaaaaa sekali rasanya, karena di IGD itu kami hanya duduk sembari menggendong si bungsu yang kadang tidur kadang bangun menangis. Kasihan sekali ketika itu saya perhatikan istri yang dengan sabar memangku menggendong si bungsu. Bahkan saya sempat khawatir jangan-jangan istri saya nanti juga nge-drop. Oh kenapa lama sekali prosesnya, demikian batin saya.

Beberapa kali saya tanya ke dokter jaga, jawabnya selalu tentang tunggu dan tunggu. Ya, kami disuruh menunggu dokter yang menangani datang dan mengecek kondisi pasien. Ada juga jawaban, akan diterapi uap sekali lagi. Walaupun pada akhirnya kedua jawaban itu tidak juga terbukti, karena kami hanya diantar ke ruang rawat inap tanpa ada proses terapi apa-apa dan tidak diperiksa terlebih dahulu.

Bersyukur, di ruang rawat inap kami bisa berbaring. Sedikit melepas rasa penat, meski tak bisa benar-benar lepas. Namun sayang, di rawat inap ternyata juga kurang personil. Untuk satu unit perawatan anak yang terdiri dari banyak bangsal, perawat jaganya mungkin hanya berjumlah tiga orang. Akibatnya, ketika ada keluhan dan pertanyaan dari pasien, tidak ada respon segera. Termasuk ketika saya menanyakan, sudah 15 jam berlalu, kenapa kondisi sesak anak saya tidak ada perubahan. Tak ada yang bisa menjawab. Ketika saya minta dokter, jawabnya: dokter pasiennya banyak, harap sabar. Ya Allah, mana bisa saya sabar melihat anak saya menderita….

Sudahlah, badai pasti berlalu. Saya harus berprasangka baik pada Allah. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan. Ya Allah, sembuhkanlah anak kami.. Amiiin

Alhamdulillah, dalam masa-masa genting itu banyak kebaikan yang saya terima. Ibu kos yang baik hati mau menemani si sulung. Juga teman-teman kuliah yang dengan ketulusan doa serta simpati dan empatinya, sempat membuat haru diri saya. Bahkan ada yang menawarkan menjaga anak sulung saya. Hingga esoknya mereka bersama-sama membantu meringankan beban finansial pengobatan anak saya. Ya Allah, balaslah kebaikan mereka dengan kebaikan yang banyak.. Amiiin..

Alhamdulillah, Kamis pagi kami si bungsu kembali ke rumah. Lebih nyaman rasanya dirawat di rumah sendiri… Terima kasih ya Allah, atas pelajaran dari-Mu pekan ini… Dan, badai pasti berlalu.

Bandung, 30 Januari 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s