Sharing dan Curhat Pak Dosen

Maaf mengganggu, sudah posting malam-malam.. Hehe.. Tapi sepertinya saya perlu menuliskannya di blog ini, sebelum lupa. Tadi, di akhir sesi kuliah Teknologi Mesin Pencari, Pak Dosen bercerita tentang banyak hal. Di antara cerita-cerita itu, tentu saja ada nasihat-nasihat serta petuah yang menurut saya sangat bermanfaat.. Ya, setidaknya menginsipirasi. Gaya berceritanya pun menarik, modelnya sharing pengalaman yang sedikit disisipi curhat.. Bahkan, seorang teman di samping saya tidak menyebutnya curhat, tapi curcol.. Hehe..

Begini ceritanya…Ketika pak dosen dulu kuliah S3 di luar negeri, umurnya sudah 30 tahunan. Tapi alhamdulillah beliau masih semangat. Beliau memanfaatkan betul masa menjadi mahasiswanya. Beliau tidak mau rugi, apalagi beliau mendanai sendiri kuliahnya. Alhasil, hanya satu nilai  beliau yang B. Itu pun untuk mata kuliah yang menurut beliau statusnya salah ambil, matematika stokastik.

Dalam pandangan Pak Dosen, sebenarnya kuliah di dalam negeri tidak kalah dibanding kuliah di luar negeri. Hanya saja, kuliah di luar negeri memiliki nilai lebih. Selain tantangan baru, mahasiswa juga dipastikan memiliki wawasan dan pengalaman yang lebih karena mereka bertemu dengan kultur yang benar-benar baru hingga kemudian dapat beradaptasi dengan lingkungan itu.

Pak dosen mengagumi kultur di kota tempat kuliahnya kala itu. Bagaimana tidak, orang di sana, meskipun tidak saling kenal, saling menyapa jika bertemu. Di Indonesia, barangkali hanya di kampung-kampung yang ada di pelosok gunung yang penduduknya masih menyapa orang tak dikenal. Mereka, orang kampung itu, tidak basa-basi. Hal ini diakui Pak Dosen lewat pengalamannya ketika masih muda dulu dalam sebuah kegiatan mendaki gunung yang tentunya melewati perkampungan-perkampungan penduduk.

Tak hanya itu, Pak Dosen juga mengagumi perilaku berlalu lintas di kota tempat studinya itu. Pada suatu bubaran acara, kendaraan yang berlalu lalang begitu banyak. Banyak sekali bahkan. Di sebuah perempatan, meskipun lampu lalu lintasnya kala itu tidak berfungsi, pengendara mobil tetap dengan tertib melajukan kendaraannya. Hebatnya, arus lalu lintas tidak tersendat, lancar dengan sendirinya tanpa ada polisi lalu lintas. Apalagi polisi cepek.. Eh, sekarang bukan polisi cepek, mungkin sudah gopek…  Beda dengan di Indonesia.

Dari cerita ini Pak Dosen kepikiran, bagaimana caranya supaya orang Indonesia juga bisa memiliki kesadaran berlalu lintas yang baik. Serius, beliau kepikiran hal ini. Janganlah pengguna jalan maunya menang sendiri. Bahkan pernah ada anak muda bersinggungan (bertabrakan tapi tidak keras) kendaraan dengan mertua beliau, tetapi malah anak muda itu yang marah-marah. Sudah salah, marah lagi… Duh, turut prihatin saya Pak…

Pak Dosen pernah juga punya cerita unik. Suatu ketika beliau sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu sesuatu. Beliau lihat seorang perempuan cantik mengendarai motor melintas tak jauh di hadapannya. Tidak berselang lama, ada seorang tua menyeberang di depan perempuan cantik itu. Heran bukan main Pak Dosen, karena perempuan cantik yang dicitrakan oleh sinetron-sinetron bak bidadari berhati peri itu ternyata memaki dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang tua tadi… Ufh…, saya ikut menarik nafas.. Kirain apa pak, bawa-bawa perempuan cantik segala.. hehe..

Kembali tentang cerita kuliah Pak Dosen dulu. Tentang satu-satunya mata kuliah beliau yang nilainya B. Pada awalnya beliau memang tidak menguasai materi kuliah tersebut. Maklum saja, beliau salah ambil mata kuliah itu. Di mata kuliah ini, latar belakang beliau tidak cocok sama sekali. Bahkan beliau harus berjuang keras belajar sendiri untuk bisa memahami apa yang menjadi silabusnya. Begitulah, hingga akhirnya nilai hasil ujian tengah semester (UTS) diumumkan. Nilai beliau jeblok! “Ih, yang ini saya bangeeet…,” saya bergumam lirih.

Dari pengalaman itu, beliau bertekad belajar serius. Beliau pelajari berbagai macam jenis soal serta bagaimana cara menjawabnya. Berbagai buku referensi beliau pelajari. Beruntung, perpustakaan kampus sangat lengkap menyediakan literatur-literatur yang dibutuhkan. Hingga akhirnya, kegigihan beliau membuahkan hasil. Nilai ujian akhir semester (UAS) -nya, sangat memuaskan. Namun demikian, nilai A tetap tak dapat diraih.

Pak Dosen juga berpesan, mumpung kami berstatus sebagai mahasiswa tugas belajar, sedotlah ilmunya dosen sebanyak mungkin. Pada saat seperti ini, bertanya kepada dosen itu gratis, tidak bayar. Lain halnya kalau nanti kami sudah kembali bekerja. Tentu kalau kami bertanya, statusnya sudah beda. Barangkali diperlukan semacam kontrak agar para dosen bisa memberi jawaban. Hehe, iya ya.. Kalau yang seperti ini namanya bukan dosen lagi, tetapi konsultan.

Sekian dulu blogging-nya malam ini. Masih ada tugas menanti besok.. Hiks.. Ya Allah, cabutlah kebuntuan otak hamba agar hamba bisa menuntaskan tugas untuk esok hari… Aaamiiin..

Cipedes Tengah, 2 April 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s