Galau Tingkat Dewa

Galau.. Tapi kali ini bukan sembarang galau. Galau yang ini galau tingkat dewa. Ibarat maicih (keripik pedas dari Bandung), mungkin seperti kepedasan level 11. Hehe, maksimal kan 10 ya?

Menurut KBBI, galau berarti (1) sibuk beramai-ramai; (2) ramai sekali; (3) kacau tidak keruan (pikiran). Akan tetapi, yang dipahami banyak orang adalah arti yang ketiga: pikiran kacau tidak keruan. Dan memang pada tulisan ini, galau yang saya maksud adalah galau dalam arti ketiga tersebut. Searti juga dengan kondisi yang melekat padanya, seperti  berat otak, bimbang, bingung, cemas, gelisah, hilang akal, kacau, karut, keruh, khawatir, kusut, nanar, pakau, resah, ribut, risau, semak hati, senewen, terombang-ambing, dan was-was.

Anak muda galau itu wajar. Apalagi yang sudah ngebet pengin nikah tetapi kok rasa-rasanya belum ketemu jodoh. Kalau ditanya kapan nikah, jawabnya Mei-Mei melulu. Bukan Mei dalam artian bulan Mei, tetapi mei-bi tahun depan, mei-bi tahun depannya lagi…

Sebagian rasa galau tidak bisa ditutupi. Hah, benarkah? Hehe.., ini menurut saya saja. Mereka yang galau, bisa jadi punya jerawat di mukanya. Apalagi kalau kulit mukanya berminyak dan tidak pernah mencuci muka. Ah, tidak kok. Itu kan mitos saja kalau ada jerawat di muka pasti ada sesuatu yang dipikirkan. Kalau dia seorang pria, mungkin yang dipikirkannya adalah sesuati (sesuatu berjenis kelamin perempuan, hehe..).

Lalu, apa yang menjadi landasan kok ada galau tingkat dewa? Sederhana saja. Kita lihat dulu tentang galau kelas teri. Kalau saya boleh buatkan istilah, galau tingkat dasar. Galau inilah yang biasa dihadapi anak muda. Saking dasarnya, kebanyakan galau selesai dengan bersegera menikah. Pendekatan ke target, kalau berhasil, insyaAllah galau berkurang. Pendekatan lagi ke calon mertua, kalau berhasil, insyaAllah galau menipis. Ngobrol-ngobrol sedikit, terus deal kapan nikahnya, insyaAllah galau hilang. Kemudian pas acara nikahan, eh, setelah acara nikahan maksudnya, ditanyakan lagi tentang galau, jawabnya, “Galau, apaan tuh? Kayaknya pernah denger deh..”

Nah, kalau galau yang saya hadapi ini bolehlah dikatakan galau tingkat dewa. Bagaimana tidak? Istri, saya sudah punya. Anak, sudah dua. Alhamdulillah. Kurang apa lagi coba, kok bisa-bisanya saya tetapi galau?

Ternyata oh ternyata, saya belum ketemu topik untuk tesis.. Bagaimana coba? Sementara teman-teman yang lain sudah memantapkan hati bercengkerama dengan topik tesis masing-masing, saya masih mengorek-ngorek imajinasi dan dunia maya untuk mendapatkannya…

Beda dengan galau anak muda, untuk galau tingkat dewa ini pendekatannya abstrak. Tidak bisa sekadar rayuan gombal yang mudah dicari di internet. Tidak bisa juga mencari mak comblang untuk mendapatkan topik tesis. Pendekatannya ya harus membaca banyak buku dan jurnal ilmiah, browsing literatur sana-sini, dan sesekali mencatat sini-sana. Harus juga menerbangkan imajinasi ke awan dengan sedikit menerawang masa depan.

Galau segalau-galaunya.. Entahlah, apakah kelak ada galau yang lebih dari ini… Ya Allah, mudahkanlah jalan hamba melintasi padang galau ini. Ya Allah, cabutlah segera status jomblo ilmiah ini ya RobbAaamiiin.

Ayo, aminkan doa saya…

Palu, 7 April 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Galau Tingkat Dewa

  1. Aamiin
    Tenang saja mas pasti ketemu sama jodoh ko orang perbandingannya 4-1🙂

  2. Ping balik: Ini Ide Bagus Gak Ya? | Di sini Cisini, di situ Cisitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s