Pengin Irit Malah Tekor

Ini pengalaman saya perjalanan dari Palu ke Bandung, beberapa hari yang lalu. Ceritanya, dari Bandara Mutiara Palu, pesawat akan transit di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Dari Balikpapan, pesawat terbang menuju Bandara Sukarno Hatta, Jakarta. Selanjutnya, dari Jakarta menuju Bandung akan saya tempuh menggunakan jalur darat. Begini kisahnya..

Senin pagi, pukul 9.30 WITA, di Kota Palu. Menuju bandara, untuk sarapan nanti di sana, aku berniat membeli nasi kuning atau nasi bungkus lainnya di tengah jalan. Aku pikir, ini pasti trik  untuk bisa ‘makan di bandara’ yang murah meriah. Anggapan saya, mungkin dengan uang hanya Rp. 5.000,- perut saya sudah kenyang terisi nasi. Bayangkan, harga semurah itu mana mungkin bisa didapat di bandara? Namun, sayang, ternyata di tengah jalan menuju bandara saya tidak menemukan penjual nasi kuning ataupun nasi bungkus lainnya. Hiks.. Tiba-tiba impian itu lenyap, hilang tak berbekas.

Sampai di bandara, terpaksa, sembari menahan lapar yang menyiksa, aku membeli roti dua bungkus. Satu bungkusnya seharga Rp. 5.000,-. Jadi, sampai di sini saya tekor Rp. 5.000,-.

Pesawat yang saya tumpangi lepas landas menuju Balikpapan. Di Bandara Sepinggan, saya transit. Lumayan lama, sekitar 5 jam di sana. Saya sampai bengong, mau ngapain. Terpaksa buka laptop, niatnya mau blogging tapi ternyata internet di sana tidak ada yang gratis. Apa boleh buat, modem saya keluarkan. Pertama, modem fleksi. Duh, sinyalnya tiarap! Kedua, ganti modem gsm dengan kartu 3. Sinyal lumayan kuat, namun sayangnya paket yang masih aktif adalah paket AlwaysOn (AON) yang hanya bisa mengakses facebook, detik.com, twitter, dan beberapa situs lainnya. Tak lama kemudian, saya mulai bete. Tutup laptop, sholat, terus jalan kaki menjelajahi ruang-ruang di bandara.

Oiya, saya ternyata belum makan nasi seharian. Terpaksa saya jalan ke sana ke mari mencari penjual nasi. Banyak sih, tetapi saya khawatir harganya melangit. Makanya saya mencari warung makan yang sistem franchise, yang biasanya memiliki harga standar di seluruh wilayah Indonesia, seperti KFC atau A&W. Tapi sudah cukup jauh berjalan, tidak juga saya temukan warung semacam itu.

Akhirnya, iseng saya tanya pada seorang bapak yang sebelumnya sempat menawari saya angkutan ke Samarinda. Hehe, padahal saya hanya transit, tidak mau ke mana-mana di Tanah Borneo ini. Begitulah, saya tanya bapak tersebut di mana makan yang murah.

“Coba dik cari di bawah pohon sana, murah cuma sepuluh ribuan,” kata bapak itu sembari menunjuk arah pepohonan di seberang jalan yang kuperkirakan jaraknya sekitar 100 meter dari tempatku berdiri saat itu. “Terima kasih, Pak,” jawab saya menghargai informasinya. Tetapi saya hanya diam, dan sejurus kemudian berjalan ke arah yang lain, bukan ke arah pepohonan itu.

Saya berpikir, makan di counter resmi saja ah. Saya pun masuk di sebuah warung makan di bandara itu. Saya pesan nasi lauk ayam goreng dan sebotol air mineral. Perkiraan saya, paling nasi ayam itu harganya dua kali lipat lebih sedikit dari harga di luar bandara. Ya, mungkin saja Rp. 25.000,-. Kalau air mineralnya, mungkin dua kali lipat lebih juga dari harga air mineral di kampus yang harga dua ribuan, bukan merek terkenal semacam aqua.

Setelah makan, barulah saya tahu harga sebenarnya. Nasi ayam Rp. 35.000,- dan air mineral Rp. 8.000,-. Total Rp. 43.000,-. Hiks.. “Untung tidak tembus lima puluh ribu,” saya mencoba menghibur diri. Hehehe…

Melanjutkan perjalanan, akhirnya pesawat sampai juga di Bandara Sukarno Hatta setelah menempuh waktu sekitar 2 jam. Sampai di Jakarta, saya mencari alternatif angkutan darat dari Jakarta ke Bandung. Pertama, naik travel Cipaganti yang akan langsung mengantar sampai alamat tujuan. Tarifnya Rp. 150.000,-. Ah, kemahalan, pikir saya. Kedua, shuttle bus Cipaganti yang akan mengantar sampai pool terdekat dengan tarif Rp. 105.000,-. Dari pool ke rumah bisa dilanjutkan dengan naik taksi atau ojek, sekitar 20 hingga 30 ribu. Kalau ditotal-total bisa Rp. 125.000,- hingga Rp. 135.000,-.

Alternatif ketiga, naik bus Primajasa yang akan berhenti di pool-nya di Kompleks Batununggal. Tarifnya Rp. 75.000,-. Dari Batununggal nanti lanjut naik taksi. Pengalaman sebelumnya, dari rumah (daerah Cipedes, Sukajadi) hingga Batununggal lewat dalam kota hanya makan ongkos Rp. 46.500,- sesuai argo taksi Gemah Ripah. Tetapi kepada sopir taksi saya berikan uang 50 ribu utuh ketika itu.

Jadi, saya pikir, total ongkos dari Jakarta ke Bandung akan menjadi 75.000 + 50.000 = Rp. 125.000,-. Akhirnya alternatif inilah yang saya ambil, dengan pertimbangan paling murah dan di tengah jalan tidak ada acara singgah-singgah seperti jika naik travel atau shuttle bus.

Kisah pun berlanjut. Sampai di Batununggal, saya mendapatkan taksi. Saya minta pada sopir taksi, untuk lewat tol saja, biar cepat. Di dalam taksi, obrolan kami mengalir betigu saja. Namun, di tengah jalan, argo berhenti sampai angka 33.300. Dan, sang sopir pun mulai membuka harga. “Maaf Pak, argonya mati. Nih lihat, berhenti terus di angka ini.” Dia melanjutkan, “Jadi, biasanya kalau sampai tol Pasteur ongkosnya 97 ribu. Terus sampai Sukajadi biasa 118 ribu. Lewat tol lebih jauh Pak, karena jalannya memutar..”

Nah, lho… Kaget saya. Saya pun berusaha membela diri pada angka 50 ribu. Tapi apa boleh buat, posisi saya sudah di tengah jalan tol, dan saya tidak ingin berlama-lama menuntaskan kangen pada anak dan istri di rumah. Saya pun mengalah, hanya bisa menawar pada angka 100 ribu. Saya coba membuang prasangka buruk, mengingat pak sopir juga punya anak dan istri yang harus dinafkahinya.

Begitulah kawan, total biaya Jakarta – Bandung akhirnya menjadi Rp. 175.000,-. Super tekor saya kali ini… Tahu begini, naik travel saja ya.. Hehe.. Tapi bagaimanapun juga saya bersyukur alhamdulillah, karena akhirnya bisa berkumpul lagi dengan keluarga. Itu yang lebih dari segalanya. Urusan tekor, lupakan saja.. Haha..

Eits, tapi kok ya juga urusan tekor ditulis di blog ini? Tidak apa, hanya sebagai catatan perjalanan sekaligus berbagi pengalaman dengan para pembaca. Terlebih dengan status mahasiswa yang saya sandang, tentu tekor adalah salah satu hal yang seharusnya bisa saya dihindari. Semoga tidak terulang lagi, aamiiin

Cipedes Tengah, 11 April 2013. Pada sebuah pagi..

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s