Ini Ide Bagus Gak Ya?

Untuk mengobati kegalauan saya, seperti pada postingan sebelumnya, sepertinya saya harus banyak membaca referensi. Kenyataannya memang pada saat ini saya sudah banyak membaca buku, tetapi sayangnya hanya setengah jalan. Oh, tidak sampai setengah jalan bahkan. Pasalnya, saya hanya membaca pengantar, daftar isi, dan paling banter bab satu. Hehe… Sepertinya saya harus mencari cara untuk bisa konsisten membaca.

Jadi begini masalahnya. Saya harus, mau tidak mau, banyak membaca banyak referensi yang sebagian besar berbahasa Inggris. Mulai dari buku-buku referensi, paper-paper yang bahasanya susah dicerna (meski pakai enzim pencernaan sekalipun), artikel-artikel ilmiah, berbagai algoritma, tesis-tesis, disertasi, dan sebagainya.

Mengenai bahan yang akan dibaca, saya rasa tidak ada masalah karena di internet begitu banyak yang bisa di-download dan dibaca. Selain itu, di kampus saya juga langganan jurnal IEEE. Jadi, untuk men-download paper-paper keluaran IEEE, saya tidak perlu membayar sepeser pun. Alhamdulillah ya..

Di tambah lagi, untuk koleksi tesis dan disertasi, di perpustakaan kampus pun bejibun banyaknya. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi saya untuk berkelit mempermasalahkan bahan belajar yang kurang.

Selanjutnya, mengenai konsistensi, keseriusan, dan semangat untuk mencerna bahan-bahan itu. Bagaimana ya supaya bisa konsisten? Bisa serius? Bisa semangat? Memutar otak sebentar ah… *putar otak mode ON…, hehe.

Flashback ke masa lalu, waktu kecil dulu ketika masih zamannya saya ngaji iqro. Ya, waktu itu sistem ngaji menggunakan catatan halaman berapa yang terakhir dibaca. Pada pertemuan berikutnya, catatan itu saya serahkan ke guru ngaji. Pak/bu guru melihat catatan halaman terakhir, kemudian menyimak ngaji saya dimulai dari halaman tersebut.

Analog dari sistem ngaji itu, sepertinya cara itu cocok untuk menjaga konsistensi membaca buku, terlebih buku yang tebal, semacam ebook referensi. Dan, saya rasa perlu untuk membuat catatan sampai halaman atau bab berapa terakhir sebuah buku saya baca. Hmmm… Ini ide bagus ndak ya?

Selanjutnya, jelas saya perlu mencatat apa yang saya baca, entah itu buku, paper, atau pun yang lain. Dan, mungkin saja saya perlu untuk membuat blog lagi yang khusus untuk mencatat hasil belajar itu. Ah perlukah? Yang ini saya ragu, ndak usahlahLha wong satu blog aja kadang nggak keurus.. Hehe…

Jadi, kembali kepada inti persoalan, perlukah saya mencatat halaman terakhir buku yang saya baca? Ini ide bagus gak ya? Ah, kok malah tambah galau… Saya coba dulu ya, insyaAllah dengan konsistensi berarti ada keseriusan di sana. Dengan adanya keseriusan berarti ada semangat yang terpelihara. Eh, ya nggak sih? Hehe, ada-ada saja.

Cipedes Tengah, pada sebuah sore, sambil menyertai anak-anak nonton film kartun…
14 April 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s