BBM untuk Android, Bunuh Dirikah?

BlackBerry (BB) tak lama lagi akan menyediakan fitur chatting andalan mereka, BlackBerry Messenger (BBM), untuk platform mobile OS Android dan iOS. Ada apakah gerangan? Padahal selama ini BBM begitu eksklusif hanya bisa diakses oleh pemegang smartphone BB. Sebagian besar anggota  beberapa komunitas yang saya ikuti memberikan opininya bahwa BB sudah mulai melunak. Bahkan sepertinya era BB tidak akan lama lagi. Terlebih gebrakannya dengan peluncuran BB Z10 di awal tahun ini ternyata tidak mendapat respon pasar yang lumayan. Walaupun, secara internal, pihak BlackBerry mengklaim bahwa BB Z10 sudah memenuhi target dan memberi laba yang lumayan.

Secara resmi, BlackBerry memiliki alasan menyediakan BBM untuk platform lain. “Mengapa kami melakukannya sekarang? Platform BlackBerry 10 didukung sangat kuat dan ini waktu yang tepat untuk mendukung BBM menjadi solusi messaging yang berdiri sendiri,” kata Heins, CEO BlackBerry, pada acara BlackBerry Live di Orlando, Amerika Serikat, pertengahan Mei ini. BlackBerry memiliki strategi ingin membuat BBM seperti layaknya WhatsApp, Line, KakaoTalk dan WeChat [1].

Mengenai rencana BBM untuk platform selain OS aslinya, saya justru melihat sepertinya ada strategi pemasaran yang bisa menjadi alat pancing bagi pengguna smartphone lain untuk mencicipi BB yang sesungguhnya. Misalnya saja, BB mendiskriminasi antara pengguna BBM di Android/iOS dengan di BlackBerry phone. Dengan sedikit menyusupkan rasa penasaran dalam pengguna baru BBM itu, sangat tidak mungkin BlackBerry bisa memancing mereka untuk mencicipi BB yang sebenarnya.

Bahkan saya curiga bahwa taktik ini untuk mereka yang selama ini nyaman menggunakan Android. Adapun platform iOS juga turut mereka ikutkan sebagai kamuflase agar cara pancingan yang satu ini tidak terasa ganjil alias menimbulkan kecurigaan.

Hal ini diperkuat lagi dengan rencana pihak BlackBerry yang akan menyediakan perangkat BB dengan harga yang terjangkau, tentu ini untuk menyasar konsumen menengah ke bawah. Selama ini BB memang eksklusif untuk kalangan menengah ke atas. Jadi, ada niatan untuk mengeruk pasar di segmen yang berbeda dari sebelumnya. CEO BlackBerry, Thorsten Heins, mengumumkan perangkat BlackBerry 10 yang saya maksud di atas mempunyai nama resmi Q5. “Perangkat ini dirancang khusus untuk pasar tertentu, seperti pasar yang sedang tumbuh,” ujar Heins [2].

Tak hanya itu, BlackBerry sepertinya juga melihat kerentanan keamanan yang diusung oleh Android, yang kerap disebut permission policy. Tidak mustahil mereka mengendap-endap setelah mendapatkan sedikit trust dari pengguna, pelan-pelan dan sedikit demi sedikit menyadap informasi pribadi dari pengguna BBM. Bukan begitu? Toh selama ini mereka kekeuh merahasiakan (baca: mengamankan) data center berikut data-data di dalamnya hanya dan hanya untuk mereka saja? Jadi, saya rasa langkah BlackBerry ini bukan bentuk bunuh diri, tetapi lebih kepada arah strategi pemasaran.

Tetapi, pasarlah yang nantinya akan menentukan keadaan berikutnya. Android yang digembar-gemborkan paling banyak diserang malware-nya, toh tetap saja ia menjadi raja. Bahkan saya sendiri, sepertinya kepingin mencoba lagi Android. Orang yang membela Android semakin banyak.

Terlebih, development tools untuk Android sekarang sudah mulai mapan dengan adanya Android Studio. Bandingkan dengan sebelumnya tool development yang hanya ‘ndompleng’ Eclipse dengan plugin Android Development Tool (ADT)-nya [3].

Menurut hemat saya, faktor keterbukaan platform-lah yang akhirnya membuat pasar lebih tertarik dan menggeliat. Kalau ada apa-apa kan ada komunitasnya yang saling membantu mengatasi persoalan. Kalau ada bug security, insyaAllah ada perbaikannya. Dan itu langsung, karena direspon oleh komunitas opensource

Nah, lho? Bagaimana menurut Anda?

NB: Ada analisis menarik dari Pak Izak Jenie melalui akun twitternya @izjenie. Menurut beliau, untuk memahami apa di balik peluncuran BBM ke platform lain adalah dengan memahami bagaimana Microsoft tetap membuat Office untuk Mac. Mungkin karena BBM dinilai lebih bagus dari instant messaging lainnya, ia diyakini akan menjadi nomor satu. Kalau sudah ada yang nomor 1, mungkin saja nomor 2, 3, dan seterusnya tidak akan begitu diangggap.

Referensi:

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s