Desain Baliho dan Poster Caleg

Pekan ini saya janji dengan seorang kawan akan membuatkannya desain untuk bahan kampanye dalam Pemilu 2014 mendatang. Pekan lalu saya masih sibuk dengan tugas akhir semester, jadi ya saya menyanggupinya pekan ini ketika tugas-tugas perkuliahan sudah mulai berakhir. Nah, beliau maju pencalegan untuk DPRD tingkat II alias tingkat kabupaten. Tulisan saya kali ini sekadar mencoba memaparkan beberapa contoh desain baliho dan poster yang pada Pemilu sebelumnya (2009) menampakkan hasil. Buktinya caleg yang bersangkutan nangkring di kursi dewan. Hehehe…. Mari disimak ya…

Metodologi saya sederhana. Karena sederhana, menurut saya bahkan tidak perlu referensi dari mana saya dapatkan metodologi ini. Dan karena sederhananya pula, pembaca tidak boleh menggugat metodologi saya ini, hehe…

Pertama, saya cari daftar nama anggota dewan. Caranya pun sederhana, misalnya melalui websitenya DPR di http://www.dpr.go.id.

Kedua, dari daftar nama tersebut, saya pilih secara acak nama-nama anggota legislatif (aleg) yang saya kelompokkan kategori figur populer dan tidak/kurang populer.

Ketiga, mulailah saya cari di internet desain baliho nama-nama tersebut. Saya analisis menurut pendekatan orang awam, kira-kira apa nilai lebihnya dari desain tersebut. Terlepas dari ukuran, lokasi pemasangan, dan sebagainya. Murni dari desainnya saja. Hasil analisisnya adalah prinsip-prinsip desain baliho atau poster caleg.

Keempat, dari hasil analisis tersebut, mulailah saya desain. Ya, sebisanya dengan kemampuan terbatas, mengikuti prinsip-prinsip hasil tahap sebelumnya.

Kelima, evaluasi dan perbaikan. Pada tahap ini, hasil desain saya serahkan ke teman saya tersebut, sekaligus saya mintakan feedback, baik dari dia maupun teman-temannya.

Baiklah, ceritanya, tahap pertama dan kedua sudah saya selesaikan. Saya mendapatkan nama-nama caleg dari alamat ini: http://www.dpr.go.id/id/anggota/. Total saya mendapatkan 560 nama dari website tersebut. Dari 560 nama tersebut, sebanyak 40 nama saya kategorikan sebagai figur populer. Kategorisasi populer menurut saya sederhana, yaitu dengan mengasumsikan nama tersebut termasuk publik figur sebelum Pemilu 2009. Jadi, pada kategori populer terdiri atas artis, mantan atlet, anak pimpinan parpol besar, unsur petinggi partai yang popularitasnya lumayan, serta mantan aktivis yang terkenal karena vokalnya dan sering muncul di media elektronik.

Jadi, ada 40 nama populer dan 520 nama tidak/kurang populer. Sederhana saja, masing-masing kelompok saya ambil 10 sampel. Jadi, menggunakan metodologi acak sistematis, pada kelompok populer saya gunakan interval 40/10 = 4 untuk pengambilan sampel. Pada kelompok tidak/kurang populer, saya gunakan interval 520/10 = 52.

Nah, saatnya masuk ke langkah ketiga dari metodologi saya ini… Tapi, sepertinya lebih enak kalau ditulis di lain kesempatan. Oke… (bersambung, insyaAllah).

Cipedes Tengah, 4 Juni 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s