Nasib Orang Sakit Jiwa di Indonesia

Entah benar atau tidak, ini oleh-oleh cerita dari Blora. Ayah saya bercerita tentang betapa mengenaskannya nasib orang gila (baca: sakit jiwa) di masyarakat. Mereka benar-benar dianggap sampah kota dan mengotori pandangan mata manusia. Oleh karena itu, hal-hal yang tidak manusiawi kadang diperlakukan kepada mereka. Bukan oleh siapa-siapa, tetapi oleh Pemerintah sendiri. Lho kok bisa?

Modusnya begini. Orang yang sakit jiwa dan biasa berkeliaran di masyarakat, ditangkap diam-diam oleh petugas pemerintah. Mungkin ditangkapnya malam-malam, ketika perhatian warga tidak tersisa sama sekali, kecuali untuk beristirahat di rumah masing-masing. Selanjutnya, orang gila tersebut dibawa menggunakan mobil dibawa ke luar daerah hingga sampai di wilayah kabupaten tetangga. Nah, anggap saja kabupaten tetangga tersebut adalah kabupaten saya, Kabupaten Blora, yang memang di bagian pinggirnya banyak kawasan hutan jati.

Nah, di tengah hutan jati inilah orang sakit jiwa tersebut diturunkan. Sendirian ditinggalkan di sana, tanpa dipikirkan bagaimana nanti atau besok dia akan makan dan bertahan hidup. Begitulah, hingga akhirnya ia bertahan dengan cara seperti binatang. Jika beruntung, kadang ada orang yang melintas dan kebetulan membawa makanan, kemudian memberikan makanan itu kepada si orang gila. Seperti yang mungkin dilakukan kakak saya yang bekerja di luar kota dan harus melintasi hutan jati. Nasi bungkusnya dari kantor seringkali tidak ia makan, siapa tahu ia menemukan orang gila kelaparan di tengah hutan. Itu menurut apa yang dituturkan ayah saya.

Tahun 2010 yang lalu, pada kesempatan perjalanan Blora-Surabaya, saya juga pernah mendapati di tengah hutan seorang gila berjalan hampir telanjang. Ah, apakah ini perbuatan Pemerintah? Dengan alasan apa pun, jika hal ini  memang dilakukan oleh Pemerintah, sungguh tidak dapat dibenarkan. Kalaupun tempat rehabilitasi orang gila tidak mencukupi, tambahlah anggarannya agar bisa cukup. Gitu aja kok repot…

Yang terakhir tetapi tidak kalah penting, mungkin perlu investigasi khusus oleh para jurnalis akan hal ini. Kebenaran harus diungkap, dan nasib-nasib orang gila juga harus diperhatikan. Kalau bukan Pemerintah bertanggung jawab atas nasib mereka, siapa lagi?

Cipedes Tengah, 27 Juni 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Nasib Orang Sakit Jiwa di Indonesia

  1. Ping balik: Menapaki Sistem “salah asuhan” Negara bagi Anak Berkebutuhan Khusus – Guru inklusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s