Bobroknya Birokrasi Kita

Birokrasi kita bobrok. Pernyataan ini sebenarnya sudah lama terpatri di benak saya, tetapi kemudian diingatkan lagi oleh seorang kawan dalam sebuah perbincangan di Blora. Jadi, postingan ini merupakan salah satu oleh-oleh dari acara mudik beberapa waktu yang lalu. Kawan saya ini bekerja di perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang obat-obatan ternak unggas. Banyak hal ia alami berhadapan dengan birokrasi yang pasti berujung pada kekecewaannya.

Dulu, waktu masih di Medan, dia pernah mendapat kiriman obat dari kantor pusatnya. Dia menunggu di sebuah instansi Pemerintah yang menangani pengiriman obat-obatan ternak.  Dia menunggu dari pagi hingga siang, tetapi tidak kunjung juga obat tersebut bisa diambil. Akhirnya ia menelepon kantor pusat, dan oleh kantor pusat ia disarankan untuk membayar uang lima ratus ribu rupiah sebagai ‘pelicin’. Dan benar, tak lama kemudian, obat itu pun bisa dibawanya.

Lain lagi kalau urusan vaksin hewan. Perusahaannya saat ini sudah mampu membuat vaksin sendiri karena memang memiliki laboratorium untuk itu. Sayang, jika vaksin yang dibuat itu diurus perizinannya lewat instansi pemerintah, izinnya baru keluar dua tahun kemudian. Duh, lambat sekali, keburu ternaknya binasa. Tak heran jika kemudian vaksin itu diberikan secara diam-diam kepada peternak. Toh jika ada kasus kematian ternak masal, pemerintah hanya melakukan tindakan yang sebenarnya sangat merugikan peternak. Seperti misalnya kasus flu burung, Pemerintah hanya bisa melakukan pembakaran masal terhadap ternak dengan nilai ganti rugi yang sangat kecil. Lalu apa daya peternak?

Kemudian kawan saya juga bicara berkaitan dengan permainan sogok di tubuh angkatan bersenjata kita (TNI/Polri). Pada praktiknya, uang sogok itu benar adanya, bahkan dengan nominal yang mencengangkan: ratusan juta! Ia sempat juga dimintai tolong saudaranya untuk meminjamkan uang sebagai penambah biaya sogok itu. Na’uzu billaah.. Kasus ini banyak terjadi, tetapi entah mengapa tidak ada yang berani dan mampu membongkar semua ini. Lagi-lagi, masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa dan menganggap hal-hal semacam ini wajar.

Atas kondisi kebobrokan ini (pelicin, lambat, sogok, dsb), masyarakat hanya bisa pasrah dan terkadang ikut arus yang ada. Sama seperti mereka, saya pun tidak bisa menghindar dari sistem yang bobrok ini. Semisal saya dipersulit mengurus suatu kewajiban saya melalui instansi pemerintah, mungkin saya lebih suka membayar sejumlah uang yang saya mampu.

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s