Kembali ke Flash?

Anda tahu flash yang saya maksud? Flash yang saya maksud di sini adalah software yang digunakan untuk membuat animasi, bukan flash merk milik Telkomsel untuk koneksi internet broadband-nya. Jujur saja ya, saya belum pernah benar-benar menguasai flash. Dulu saya belajar flash ketika masih zamannya Macromedia. Versinya pun masih Flash MX. Ya, dulu sekali.

Pada waktu kuliah D4 dulu, saya memang sempat mencoba belajar flash karena penasaran. Tetapi, karena tak ada hubungannya sama sekali dengan studi dan obsesi saya waktu itu, akhirnya tidak berlanjut. Berikutnya, setelah kerja, saya sempat mengikuti pelatihan multimedia dengan software utama yang diajarkan adalah Macromedia Director. Dengan perpaduan flash, saya yakin output akhir Macromedia Director akan semakin bagus. Saya pun mencoba lagi bersentuhan dengan flash. Namun, sayang lagi-lagi pekerjaan kantor tidak ada relevannya sama sekali dengan flash, alias tidak membutuhkan flash. Lha wong pekerjaan saya mengolah data… Akhirnya, flash pun saya tinggalkan.

Nah, kemarin siang, pada acara seminar tesis, dosen pembimbing memberi masukan agar saya merancang bahan ajar menggunakan flash agar unsur interaktivitasnya dan elemen gamifikasinya mudah diterapkan. “Kembali ke flash?” tanya saya dalam hati. Padahal dalam batasan penelitian saya mencantumkan penggunaan software yang free alias gratis. Nah, kalau flash kan harus bayar. Untuk “Adobe Flash Professional CS6 Student and Teacher Edition”, kita harus merogoh kocek S$9888 belum termasuk pajak. Tidak percaya? Silakan cek di sini. Saya cek tanggal 24 Juli 2013, hari ini.

dolar singapura

Kalau begini caranya, sepertinya saya terpaksa mencari alternatif bajakan… Hehe, untuk tujuan belajar saja kok.

Tidak hanya itu, kalau saya lihat spesifikasi kebutuhan hardware, sepertinya juga agak memaksa untuk laptop saya. Berikut ini spesifikasi teknis yang saya ambil dari websitenya Adobe.

  • Intel® Pentium® 4 or AMD Athlon® 64 processor
  • Microsoft® Windows® XP with Service Pack 3 or Windows 7
  • 2GB of RAM (3GB recommended)
  • 3.5GB of available hard-disk space for installation; additional free space required during installation (cannot install on removable flash storage devices)
  • 1024×768 display (1280×800 recommended)
  • Java™ Runtime Environment 1.6 (included)
  • DVD-ROM drive
  • QuickTime 7.6.6 software required for multimedia features
  • Some features in Adobe Bridge rely on a DirectX 9–capable graphics card with at least 64MB of VRAM
  • This software will not operate without activation. Broadband Internet connection and registration are required for software activation, validation of subscriptions, and access to online services.* Phone activation is not available.

Ah, bagaimana saya bisa meyakinkan HTML5 sebagai alternatif dari Flash ya? Kira-kira mau nggak ya pak dosen? Ah, sudah dulu lah. Belajar first! Belajar sambil praktik  maksudnya…

Cipedes Tengah, 24 Juli 2013

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s