Learning by Project

Bulan lalu saya memposting tulisan dengan judul “Learning Itu by Doing.” Pada tulisan tersebut juga saya singgung cara sederhana untuk membumikan learning by doing tersebut. Yakni, membuat proyek abal-abal. Nah, postingan kali ini, sekadar ingin mempertajam apa yang sudah sempat tersurat pada postingan sebelumnya. Dan lahirlah konsep “Learning by Project” alias belajar melalui proyek.

project in business and science is typically defined as a collaborative enterprise, frequently involving research or design, that is carefully planned to achieve a particular aim.
(Proyek dalam bisnis dan sains biasanya didefinisikan sebagai usaha kolaboratif yang sering melibatkan penelitian atau desain, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.)

– Oxford English Dictionary

Menurut saya, untuk belajar sesuatu, idealnya kita harus membuat project alias proyek. Project yang saya maksudkan adalah segala kegiatan yang mengandung nilai-nilai filosofis sebuah project. Saya yakin pasti para pembaca sudah mengetahui apa itu proyek. Nah, di sini saya akan ambil nilai-nilai intinya saja.

Project memiliki tujuan dan target. Tujuan harus kita buat dalam satu kalimat yang sederhana. Nah, untuk mencapai tujuan tersebut, buatlah target-target yang detil dan memungkinkan untuk dicapai, meskipun kita masih dalam tahap belajar. Untuk memudahkan menentukan target-target tersebut sekaligus sebagai indikator apakah tujuan sudah dicapai atau belum, kita perlu membuat poin-poin  yang disebut dengan user-requirement alias spesifikasi kebutuhan.

Project dibatasi waktu. Jadi, tidak mungkin tanpa batas waktu. Oleh karena itu, jadwal pengerjaan harus diatur sebaik mungkin. Caranya sederhana, target yang telah kita tetapkan jadikan milestone dan kita tinggal tetapkan waktu penyelesaiannya kapan dan berapa lama.

Project ada deliverable-nya. Selain berwujud nyata, entah program, sistem informasi, atau yang lain, hasil akhir sebuah project harus bisa dinikmati orang lain (di-deliver ke pihak lain). Kesimpulannya, hasil project harus di-publish agar orang-orang di bawah kolong langit ini tahu bahwa kita memiliki karya. Eh, tergantung project-nya sih. Kalau project-nya pesanan orang ya nggak perlu semua orang tahu… Hehe..

Project ada dokumentasinya, itu pasti. Lakukan dokumentasi dengan baik, minimal tujuan, target, spesifikasi kebutuhan, timeline dari milestones, serta spesifikasi deliverable-nya. Spesifikasi deliverable di sini bisa berupa user-guide dari produk yang kita buat.

Lalu apa untungnya kita menggunakan pendekatan dengan project itu?

Pertama, project bisa jadi start-up. Ya, biasanya start-up lahir dari sebuah gagasan yang menggarap sebuah project tertentu. Apalagi start-up digital, pasti diawali dengan sebuah proyek.

Kedua, project menjadi portofolio bagi kita. Portofolio yang banyak dan berkualitas akan meningkatkan nilai jual kita dalam dunia kerja. Percaya deh..

Ketiga, dalam konteks belajar, kita pasti menerapkan prinsip learning by doing. Mustahil atlet renang bisa jago renang kalau hanya membaca teori-teori tanpa pernah langsung nyebur ke air dan mempraktikkan teorinya.

Keempat, membiasakan diri bekerja dalam konteks proyek yang biasanya membutuhkan manajemen yang baik.

Terus, dari mana kita mendapat project?

Ada beberapa cara kita mendapatkan project. Pertama, kita bisa mendapatkannya dari pihak lain. Pihak lain bisa berupa organisasi, institusi, bahkan perorangan. Caranya pun bisa dari inisiatif kita yang mencoba menawarkan solusi, bisa pula tawaran pekerjaan dari mereka. Motif kita pun bisa berbeda-beda, bisa murni motif bisnis (profit), bisa juga motif pertemanan, semisal teman atau keluarga kita meminta bantuan. Kalaupun nanti diberi imbalan, ya syukur. Kalau tidak, ya pertemanan tetaplah yang utama, dengan catatan, proyeknya tidak rumit-rumit amat. Hehe…

Kedua, project yang lahir karena kita mengikuti suatu perlombaan atau kompetisi. Apalagi zaman sekarang banyak perusahaan yang mengadakan kompetisi. Asik tuh kalau kita bisa berpartisipasi.

Ketiga, project yang berasal dari inisiatif kita sendiri. Project semacam ini bisa menjadi modal jika suatu saat kita ingin membuat start-up. Terlebih lagi bila idenya orisinil, bermanfaat, dan mendapat respon positif dari khalayak. InsyaAllah, dari sisi finansialnya akan berimbas positif.

Jadi, yuk buat project!

Atau begini: yuk belajar dengan pendekatan project!

Ah, terserahlah apa istilahnya, yang penting learning by project aja.

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s