Lebaran Dimana?

Orang Indonesia memiliki tradisi unik berkaitan dengan momen hari raya idul fitri. Tidak hanya yang muslim, bahkan yang kristen, khatolik, serta yang beragama lain pun turut berkontribusi dalam momen luar biasa yang namanya mudik. Mudik, asal bahasanya adalah me-udik. Udik artinya kampung, jadi mudik secara sederhana berarti pulang kampung. Nah, di Indonesia, sudah menjadi tradisi bagi mereka yang merantau untuk mudik pada momen lebaran. Saya termasuk perantau, tetapi saya bukan penggembira dari momen mudik masal ini. Ya, saya cenderung memilih lebaran di negeri orang.

Jadi begini, bagi seorang perantau seperti saya ini, menjalani lebaran ada dua pilihan: di kampung halaman (mudik) dan di tanah rantau (tidak mudik). Mari kita simak kelebihannya masing-masing.

Plus (+) Minus (-) Lebaran di Kampung

  • (+) Kesempatan berjumpa dengan orang tua di momen yang bahagia. Dengan kata lain, insyaAllah orang tua menjadi senang karena kita datang sowan, silaturahim. Artinya apa, kalau orang tua senang berarti itu salah satu bentuk kita berbakti pada orang tua.
  • (+) Lebaran di kampung halaman kita bisa silaturahim kepada kerabat kita, kawan-kawan lama, guru-guru, hingga orang-orang yang kita kenal dan pernah berbuat baik kepada kita.
  • (-) Secara finansial tidak begitu menyenangkan. Hal ini disebabkan oleh naiknya biaya transport yang berlipat-lipat. Dalihnya satu: tuslah. Saya sendiri tidak habis pikir, ada apa dengan tuslah. Asalnya dari mana dan mengapa ada tuslah segala? Mending kalau naiknya sedikit. Saya sempat mengecek kenaikan tarif bus yang biasa saya tumpangi, naiknya hampir 3X (tiga kali) lipat. Biasanya 155 ribu menjadi 403 ribu!
  • (-) Saya yakin porsi ibadah menjadi kurang. Apalagi kalau sudah di kampung halaman, semangat yang ada tinggal bagaimana mempersiapkan hari H lebaran. Lebih-lebih dengan dalih capek perjalanan jarak jauh dari tanah rantau, tentu ibadah menjadi lebih susah. Yang pasti menjadi sebab berkurangnya porsi ibadah karena sebagian waktu bulan ramadhan kita habiskan di perjalanan. Bukan begitu?

Plus (+) Minus (-) Lebaran di Tanah Rantau

  • (+) Optimis ibadah lebih maksimal. Gunakan untuk iktikaf di masjid, apalagi 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kalau momen ini dipakai perjalanan mudik, saya pesimis bisa iktikaf. Mungkin sih, tapi barangkali peluangnya kecil.
  • (+) Silaturahim dengan tetangga dekat yang sehari-harinya kita berinteraksi dengan mereka.
  • (+) Pengalaman baru di tanah rantau. Nah ini yang nilainya mahal menurut saya. Alhamdulillah, saya pribadi sudah mengalami lebaran di berbagai tempat. Di Jakarta-2005, Morowali (Kolonedale-2006 dan Bungku-2007/2008), Palu-2009/2010/2011/2012, Bandung-2013.
  • (-) Minusnya ada pada plusnya lebaran di kampung halaman.

Kesimpulannya, jawaban atas pertanyaan ‘lebaran di mana’ adalah terserah mau di mana, tidak ada yang salah. Ya, gitu aja. Sederhana kan? wkwkwk..

Oiya, ini satu lagi saya sajikan statistik kecelakaan pada saat momen mudik..

  • Lebaran 2010: 632 tewas
  • Lebaran 2011: 875 tewas
  • Lebaran 2012: 908 tewas; 1.505 luka berat; 5.139 luka ringan
  • Lebaran 2013 (data s.d. 5 Agustus): 224 kasus kecelakaan dengan 60 tewas.

Sumber data dapat dilihat pada berita di halaman ini http://www.bisnis.com/60-pemudik-lebaran-2013-tewas-dalam-kecelakaan.

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s