Aturan Baru untuk Manajemen IT

Perkembangan teknologi informasi sangatlah dinamis. Tak heran, kelebihan-kelebihan teknologi IT dengan cepat tiba-tiba menghilang karena mendadak teknologi itu menjadi biasa-biasa saja. Makanya, manajemen IT harus teliti dan hati-hati dalam menginvestasikan uang dalam konteks IT. Nicholas memberikan tiga petunjuk agar investasi tidak mubazir, tetapi sebaliknya agar profitnya maksimal.

Spend less. Penafsirannya, jangan belanja banyak-banyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan investasi IT yang paling besar justru jarang mendapat hasil finansial yang paling tinggi. Karena komoditisasi IT terus berlanjut, kecenderungan investasi yang kurang berguna jumlahnya semakin besar. Dengan demikian, semakin sulit mencapai keunggulan kompetitif melalui investasi IT. Justru, dengan investasi IT lebih gampang mendapat kerugian.

Follow, don’t lead. Ikuti, jangan jadi yang di depan. Hukum Law menjamin bahwa semakin lama menunggu untuk belanja IT, lebih banyak Anda akan mendapatkan uang. Dan menunggu akan menurunkan risiko membeli sesuatu yang secara teknologi cacat atau cepat kadaluarsa. Pada beberapa kasus, untuk menjadi canggih tetaplah masuk akal. Tetapi kasus-kasus seperti itu menjadi kian langka seiring dengan langkanya kemampuan IT menjadi semakin homogen.

Focus on vulnerabilities, not opportunities. Fokus pada kelemahan, jangan peluangnya. Tidak biasanya perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif hanya  khusus menggunakan sebuah teknologi infrastruktur yang matang. Hal ini karena gangguan yang singkat dapat mengacaukan segalanya. Ketika perusahaan-perusahaan terus melakukan kendali terhadap aplikasi IT dan jaringan melalui vendor atau pihak ketiga, ancaman yang dihadapi perusahaan itu semakin besar. Oleh karena itu, perusahaan harus menyiapkan diri untuk masalah-masalah teknis, gangguan listrik, masalah sekuriti, serta perlahan menggeser fokus dari peluang-peluang ke kelemahan-kelemahan.

Sumber:
Makalah “IT Doesn’t Matter” oleh Nicholas G. Carr pada jurnal “Harvard Business Review” edisi Mei 2003.

Pos ini dipublikasikan di Akademik, Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s