Testing Makes Perfect

Nasihat lama mengatakan bahwa jika Anda ingin mempelajari sesuatu, belajarlah, belajarlah, dan belajarlah. Tetapi, riset psikologi terbaru menyarankan mantra yang berbeda, yakni: “ujilah, ujilah, dan ujilah.”

Pada jurnal Science (Vol. 319, no. 5.865), sekelompok ahli psikologi menemukan bahwa siswa yang secara berulang menguji (melakukan ujian/testing) pada materi atau bahan ajar  mengungguli secara signifikan mereka yang hanya mengulangi belajarnya.  Jeff Karpicke, PhD, of Purdue University di West Lafayette, Ind., dan Henry L. “Roddy” Roediger, PhD, of Washington University in St. Louis, mempelajari variasi prosedur belajar dengan kemampuan mengingat daftar 40 pasangan kata bahasa Swahili-Inggris (misalnya mbwa berarti dog). Pada awalnya, semua siswa mempelajari semua 40 pasang kata tersebut kemudian mereka semua diberikan ujian.

Selanjutnya, semua siswa tadi dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama belajar dan diuji pada semua kata setiap waktu. Kelompok kedua diuji pada semua kata tetapi kata-kata yang sudah benar jawabannya dikeluarkan dari daftar belajar. Kelompok ketiga belajar semua kata tetapi yang diujikan hanya kata-kata yang masih salah. Kelompok keempat mempelajari dan menjalani ujian pada kata-kata yang salah saja. Setelah empat kali belajar dan ujian, semua siswa pada empat kelompok tersebut memiliki nilai hampir 100 persen.

Kelompok Siswa Bahan Belajar Bahan Ujian
I Semua Semua
II Kata-kata yang salah dijawab Semua
III Semua Kata-kata yang salah dijawab
IV Kata-kata yang salah dijawab Kata-kata yang salah dijawab

Nah, seminggu kemudian, Karpicke dan Roediger menguji siswa sekali lagi pada pasangan-pasangan kata tersebut. Mereka menemukan bahwa dua kelompok yang mengulangi ujian pada semua kata mendapatkan sekitar 80 persen jawaban benar. Sementara kelompok lainnya, yang mempelajari semua kata tetapi tidak diuji pada jawaban yang benar, hanya mengetahui sekitar 35 persen. Wah, jauh beda ya?

Ujian barangkali menjadi pilihan yang lebih baik daripada terus belajar karena mengingat adalah keterampilan yang memerlukan latihan, demikian menurut Karpicke.

“Jika orang melatih memanggil memorinya pada saat belajar, mereka berlatih keterampilan yang sama yang dibutuhkan untuk mengingat informasi pada pengujian berikutnya.”

Sumber: http://www.apa.org/monitor/2008/06/testing.aspx

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s