Nasihat Bapak Jika di Tanah Rantau

nasihatkuBeberapa hari yang lalu saya mudik, menjenguk ibu dan bapak di kampung halaman. Meski capek, kalau semua itu diniati ibadah, insyaAllah ada ganjaran kebaikan dari Tuhan sing nggawe urip. Begitulah, ternyata tidak sedikit pelajaran bermakna saya petik dari agenda silaturahim singkat tersebut. Bapak saya, yang menurut saya kian bijak dalam usianya yang sepuh, memberi saya sedikit nasihat. Sedikit tapi berbobot.

Nasihat itu adalah, “Ning perantauan, konco lan tonggo kuwi dadi sedulur…” Nah, singkat sekali kan? Singkat, padat, tapi penuh makna. Dan oleh karena itu perlu perenungan sejenak. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira menjadi begini: “Di tanah rantau, teman dan tetangga itu adalah saudara kita.”

Nasihat itu begitu membekas, karena terus terang selama ini saya merasa belum menganggap teman dan tetangga adalah saudara saya. Ya, saya hanya sekadar menganggap mereka teman dan tetangga. Itu saja. Padahal, kalau konteksnya mereka dianggap sebagai saudara, ada beberapa hal yang harus dijadikan patokan perlakukan.

Pertama, saudara harus dibantu, lebih dipentingkan daripada diri kita sendiri. Terlebih apabila mereka memang dalam kondisi yang benar-benar membutuhkan. Bagi kita, tidaklah elok mengharapkan kebaikan itu kembali. Karena kebaikan itu hakikatnya adalah tabungan kita di atas langit sana yang dapat dicairkan sewaktu-waktu pada saat yang pas. Nah, saat yang pas itu hanya Tuhan yang tahu. Dia mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Kedua, saudara tidak boleh diajak bertengkar, baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik kita sudah jelas bentuknya seperti apa. Secara psikis, contohnya adalah kita menampakkan mimik muka yang tidak bersahabat, ada kesengajaan untuk berpaling, dan sebagainya. Intinya, pertengkaran secara psikis ini menimbulkan efek psikologis atau perasaan yang kurang nyaman pada saudara kita.

Ketiga, saudara harus didoakan kebaikan. Nah, pada bagian ini, kita berharap doa kita dapat dikabulkan Tuhan. Oleh karena itu, berdoalah yang baik, insyaAllah doa itu akan kembali juga kepada kita.

Buat Bapak di Blora, matur nuwun nasihatnya…. Doakan saya dapat melakukannya…

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s