Kereta Api Ekonomi Bandung-Solo

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman pertama saya menggunakan jasa transportasi PT KAI yang berkelas ekonomi. Sebenarnya dulu zaman kuliah di tahun 2001 – 2004, saya biasa naik kereta api ekonomi Jakarta – Semarang. Tapi kali ini saya sebutkan pengalaman pertama, karena PT KAI yang sekarang berbeda jauh dengan tahun 2000-an, baik dari sisi pelayanan maupun manajemen.. Yuk ah, kita simak penuturan saya..

Berangkat dari kosan menjelang pukul 6 petang, di daerah Cipedes Tengah, saya berjalan kaki menuju jalan Djunjunan, tak jauh dari hotel Aston. Di sana, saya diiringi gerimis yang semakin intens. Tapi setelah tak berapa lama, akhirnya saya mendapati angkot yang saya nanti-nanti: jurusan Gn Batu. Naik angkot tersebut, saya turun di jalan Wastu Kencana. Saya bayar 3 ribu rupiah.

Dari jalan Wastu Kencana, saya berjalan kaki sedikit hingga perempatan jalan Purnawarnan. Di tempat itu saya naik angkot lagi jurusan Margahayu Raya. Angkot melaju terus hingga di jalan Kiara Condong, tepatnya sebelum jembatan layang Kiara Condong. Saya turun dengan memberi uang ke pak sopir 4 ribu rupiah.

Stasiun kiara condong tidak jauh lagi, tapi saya mengambil angkot yang menuju arah bawah. Tidak lama, saya pun sampai dengan cukup membayar uang seribu rupiah. Tetapi saya masih perlu jalan kaki lagi untuk menuju stasiunnya.

Sampai di stasiun, sekira pukul 7 malam. Alhamdulillaah, tidak terlambat. Saya agak kaget mendapati banyak sekali orang, sepertinya calon penumpang, dengan banyak sekali barang bawaannya, berjubel di depan gedung kantor stasiun. Begitu juga di dalam kantor tersebut, ramai sekali. “Punten,” begitu kira-kira saya harus berjalan menuju loket penjualan tiket, karena tidak sedikit orang-orang yang duduk di lantai karena tidak kebagian kursi.

Saya pesan tiket ekonomi, Kiara Condong – Solojebres. Kereta Api-nya bernama Kahuripan. Tarifnya Rp 85.000. Hehe, kirain lebih murah dari angka itu… Tapi itu murah juga kok… Dan saya mendapatkan kursi nomor 18A gerbong 5.

Setelah itu, saya menuju ke mushola. Sejenak menunaikan sholat jama’ qosor Magrib dan Isya. Oiya, tentu saja tidak lupa BAK sebelumnya.

Sekitar pukul setengah delapan, calon penumpang kereta dipersilakan naik gerbong. Saya pun turut mengikuti prosedur itu. Tiket saya distempel. Saya pun menuju gerbong nomor 5, sesuai arahan petugas.

Begitu masuk gerbong, saya lumayan terperanjat. “Wah, masih sepi,” gumam saya. Memang baru sekitar 5 orang yang naik gerbong tersebut. Saya taruh tas di kursi nomor 18A. Wah, dapat kursi yang jarak antar barisnya sangat mepet. Bayangkan, hanya 30 cm! Kaki saya saja sudah makan tempat banyak…. Bagaimana nanti kalau ada penumpang lainnya? Bakal tendang-tendangan kayaknya… Hahahahaha..

Saya jalan-jalan sebentar. Saya lihat ada AC di setiap jarak 3 meter. Wow.. Terus, saya lihat ke bagian ujung, periksa toilet. Dan, luar biasa… bersih, bro!!!

Ah, duduk dulu… Sembari duduk, saya iseng menghidupkan wifi di handphone. Wow, lagi-lagi saya kaget. Ada layanan wifi banyak dari @wifi.id. Kuat pula, sinyalnya… Dan blogging saya kali ini menggunakan wifinya Bandung Juara… Mantap nggak?

Okelah, itu dulu… Kereta sudah mau berangkat nih.. Nanti ceritanya berlanjut, insyaAllah

Bandung (Stasiun Kiara Condong), 15 Maret 2014.

NB: Foto-fotonya saya upload nanti saja ya…

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s