Subhanallah vs MasyaAllah

Tadi pagi menyimak acara cahaya hati. Pak Ustadz, sebagai narasumber, sempat saya dengar mengucap kata ‘subhanallah‘ untuk menunjukkan ketakjubannya. Ingatan saya langsung terbang ke sebuah peristiwa beberapa bulan yang lalu. Kala itu, saya berbicara melalui telepon dengan seorang kawan. Melalui perangkat nirkabel itu, saya menceritakan sebuah kabar yang kurang begitu bagus. Spontan, kawan saya tersebut menyebut kata ‘subhanallah.’ Dalam hati saya terhenyak, kok malah berkata ‘subhanallah‘, bukannya ‘masyaAllah‘? Usai pembicaraan itu, saya pun googling di mana momen yang tepat untuk mengucapkan kata ‘subhanallah‘ atau ‘masyaAllah.’

Saya menemukan beberapa artikel yang intinya adalah bahwa ‘subhanallah’ diucapkan ketika kita menemui suatu hal yang tidak menyenangkan atau yang buruk, sedangkan ‘masyaAllah’ jika kita menemui hal yang menggembirakan atau menakjubkan.

Yang pertama, justru artikel yang merupakan komentar dari tulisan utama dari halaman tersebut. Anda bisa mengaksesnya di http://moslemsunnah.wordpress.com/2012/03/25/subhanallah-atau-masya-allah-kadang-suka-terbalik/.

Komentar pertama yang saya nukil adalah dari Saudara Muhammad Al Qudus.

muhamad al qudus
Jul 04, 2013 @ 21:23:24

Memaknai Perbedaan Ucapan “Subhanallah” dan “Masya Allah” (yang kadang sebagian orang sering terbalik dalam memaknainya). ^^

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Secara umum, menyebut asma Allah dan berdzikir kepada-Nya ialah kebaikan tertuntunkan. Menyertakan Allah dalam tiap kejadian adalah niscaya. Dan tiap penyebutan nama Allah yang bermakna khusus tentu memiliki tempat sesuai tuntunan. Semisal; Istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun) diucap saat kita mengetahui ada saudara kita yang meninggal atau saat kita bermusibah. (semisal banjir, kebakaran, tanah longsor, kecelakaan, dll).

Nah, bagaimana dengan ucapan “Subhanallah” dan “Masya Allah”?

Ada 2 yang mengikatnya; tuntunan Qur’an-Sunnah dan kebiasaan dalam Bahasa Arab. Al-Qur’an menuturkan; Subhanallah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dll.” Ayat-ayat berkomposisi ini sangatlah banyak.

Juga, Subhanallah digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik. “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau (Subhanaka). Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS 34 : 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (Subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS 12 : 108) dll.

Bukankah ada juga pe-Maha Suci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al-Qur’an menuturnya dengan kata ganti kedua: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau (subhanaka), maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS 3: 191).

Atau kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut asma Allah: “Maha Suci (Allah) (subhana), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 17 : 1, dll).

Sedangkan ia juga terpakai pada; me-Maha Suci-kan Allah dalam menyaksikan bencana dan mengakui kezhaliman diri: “Mereka mengucapkan: “Maha Suci Rabb kami (subhana), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS 68 : 29), menolak fitnah keji yang menimpa saudara: “mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS 24 : 16).

Bagaimana Hadits-nya?
“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, dan apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR. Imam Bukhari, dari Jabir ra.).

Jadi “Subhanallah” dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah Subhanahu wa ta’ala dilekatkan padanya.

Bagaiamana simpulannya?

Dzikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia dzikir semua makhluq dan tertempat di waktu utama pagi dan petang. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakan ia sebagai pe-Maha Suci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagungan-Nya.

Bagaimana dengan “Masya Allah”?

QS. 18 : 39 memberi contoh: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “Masya Allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,” ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak. Lengkapnya; “Masya Allah la quwwata illa billah”, kalimat ke-2 menegaskan lagi; tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah.

Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab; mereka mengucapkan “Masya Allah” pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.
Simpulannya; “Masya Allah” adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah; dan memang hal indah itu dicinta dan dikehendaki oleh Allah.

Demi ketepatan makna keagungan-Nya dan menghindari kesalahfahaman; mari biasakan mengucap “Subhanallah” dan “Masya Allah” seperti seharusnya. Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli Insya Allah lebih tepat bermakna.

Tercontoh; orang Indonesia bisa senyum gembira padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat; “Allahu yahdik!”. Arti harfiahnya; “Semoga Allah memberi hidayah padamu!” Bagus bukan? Tetapi untuk diketahui; makna kiasan dari “Allahu yahdik!” adalah “Dasar gebleg!”
Jadi, mari belajar tanpa henti dan tak usah memaki.

(dirangkum dari kultwit pada linimasa Salim A. Fillah rahimakallah).

Berikutnya, saudara Abu Azzam juga memberikan komentar yang bagus.

abu_azzam
Nov 01, 2013 @ 10:10:05

saat melihat hal yang menakjubkan hendaknya seorang mukmin mengucapkan
بارك الله فيك
سبحان الله
الله أكبر
Lih. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah juz.19 hal.123 danhttp://www.saaid.net/Doat/ehsan/114.htm

Adapun
ما شاء الله

Maka Ulama’ berbeda pendapat mengenainya, ada yg menyarankannya saat melihat hal-hal yang menakjubkan dan ada yg tidak menyarankannya.

Dan kami pribadi menguatkan pendapat yang tidak menyarankannya karena hadits yang dijadikan hujjah untuk itu lemah, yaitu riwayat:
“من رأى شيئاً فأعجبه فقال : ما شاء الله لا قوة إلا بالله : لم تصبه العين”

Barang siapa melihat sesuatu yang membuatnya takjub kemudian dia berucap: Masyaallah la quwwata illa billah maka sesuatu yang dilihat itu tidak akan tertimpa penyakit Ain. Riwayat ini lemah sekali.

dan berdalil untuk mengucap ma syaa’allah dengan ayat:

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالا وَوَلَدًا (الكهف:٣٩

“dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan” (QS Al Kahfi: 39)

Tidaklah tepat karena tidak ada kaitan antara hasad dengan ayat tersebut, dan Allah ta’ala menghancurkan orang tersebut disebabkan oleh pelampauan batas dan kekufurannya (bukan Karena masalah hasad atau tidak membaca ma syaa’allah).http://www.saaid.net/Doat/ehsan/114.htm
wallahu ta’ala a’lam

Tidak hanya itu, ada juga komentar lain masih dari Saudara Abu Azzam:

abu_azzam
Nov 01, 2013 @ 10:17:22

We spend our time trying to fly past that faraway star
Penggunaan Subhanallah dan Masya Allah
tinggalkan komentar »

Entah bagaimana dan kapan asal mulanya, penggunaan kata Subhanallah dan Masya Allah di Indonesia sering terbalik. Jika melihat sesuatu yang bagus, biasanya orang akan berkata “Subhanallah, indah sekali ya pemandangannya” atau “Subhanallah, bagus sekali suaranya”, namun apabila melihat sesuatu yang buruk, biasanya orang akan berkata “Masya Allah, bandel banget sih” atau “Masya Allah, panas sekali disini”. Nah, mari kita telusuri makna dari kata-kata tersebut.

Subhanallah

Penggunaan kata Subhanallah dapat ditemukan dalam beberapa ayat di Al Qur’an,

dalam Q.S ath-Thuur ayat 43 Allah berfirman:

() أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(QS. 52:43)

Dalam Q.S Ash Shaaffat ayat 159,

()سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,(QS. 37:159)

Dalam Q.S Yusuf ayat 108,

()قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: `Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik`.(QS. 12:108)

Jadi, Subhanallah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dll. Dalam buku Muktar al-Sihah, Subhanallah berarti kesaksian seseorang yang menghapus setiap elemen antropomorfis (personifikasi) yang berasosiasi dengan Allah atau dengan kata lain berlepas diri dari hal-hal yang menjijikkan semperti syirik.

Walaupun ada pemakaian Subhanallah untuk hal yang menakjubkan seperti dalam Q.S al Israa ayat 1,

()سُبْحَانَ الَّذِى أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الاْقْصَى الَّذِى بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءايَـتِنَآ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُالبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Menurut tafsir ibn Katsir, penggunaan Subhanallah dalam ayat ini untuk menegaskan bahwa ini adalah perkara yang serius.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir r.a:

“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, dan apabila berjalan turun membaca tasbih.”

Jadi “Subhanallah” dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah Subhanahu wa ta’ala dilekatkan padanya.

Kesimpulannya, Subhanallah merupakan salah satu bentuk dzikir yang dapat digunakan kapan saja (bahkan sangat berat timbangan amalnya). Namun pada pengucapan sebagai respons terhadap kejadian sehari-hari, Subhanallah digunakan untuk menegaskan kembali ke Maha Suci-an Allah atas segala sesuatu yang tidak pantas bagi keagungan dan kebesaran-Nya.

Masya Allah

Dalam surat al Kahfi ayat 39 Allah berfirman yang artinya: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,”

Dalam ayat itu, Masya Allah diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak.

Dalam kultur Arab, Masya Allah digunakan untuk mengekspresikan kebahagiaan, apresiasi, pujian, dan rasa terimakasih kepada lawan bicaranya. Makna dari kata ini selain menghormati dan menghargai lawan bicara, juga sebagai pengingat bahwa pencapaian atau rezeki yang dia dapat adalah atas kehendak Allah. Masya Allah biasanya digunakan saat mendengar kabar baik.

Bagi yang mengucapkan, kata Masya Allah juga berfungsi untuk menjaga hati dari rasa iri dan dengki.

Artikel kedua saya kutipkan dari http://inilahrisalahislam.blogspot.com/2013/09/salah-kaprah-dalam-mengucapkan.html yang isinya sebagai berikut:

Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan!
SELAMA ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan  Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah(Itu terjadi atas kehendak Allah).
Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “hal itu terjadi atas kehendak Allah”
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).
Ucapan Masya Allah
Artinya, “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.
Diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.
“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maasya Allah laa quwwata illa billah” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).
Ucapan Subhan Allah
Saat mendengar atau  melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.
Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Saw berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Saw. Beliau bersabd :‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasululla , aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub.  Rasulullah Saw bersabda:Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis” (HR. Tirmizi). “Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim.
Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya:
“Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikatitu menjawab: “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS. Saba’: 40-41).
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau (dari menciptakan hal yang sia-sia), maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran:109).
Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan.
Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Swt Mahasuci dari semua keburukan tersebut. Masya Allah  diucapkan bila seseorang melihat yang indah-indah.
Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebalinya? Insya Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam.*

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga tidak ada yang salah menggunakannya. Aamiin..

Pos ini dipublikasikan di Agama, Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s