Kapok Mudik Lebaran

Setelah sekian lamanya, akhirnya saya mengikuti ritual mudik lebaran. Ya, atas kehendak Allah, saya dipindahtugaskan ke Jakarta mulai tahun ini. Dan, untuk pertama kalinya lah saya mencoba mudik pas lebaran setelah selama ini di Sulawesi tidak pernah mudik pas momen lebaran. Terlebih pada momen lebaran ini saya belum bersama istri dan anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk menengok ibu dan bapak di kampung halaman. Ya, mudik lebaran. Inilah cerita saya selengkapnya…

Tiket kereta sudah tidak mungkin saya dapatkan. Pilihan terakhir hanyalah bus. Tanggal 24 Juli, saya mencari tiket. Tiket bus yang saya dapatkan adalah untuk hari Sabtu, 26 Juli. Armadanya adalah Handoyo. Harga tiket 360 ribu. Wow, pekik saya dalam hati… Mahal amat ya..

Hari H, tanggal 26. Saya berangkat dari kos jam setengah dua siang menuju tempat pemberangkatan bus, di Pall, Kelapa Dua, Depok. Sampai di sana, sekitar pukul setengah tiga. Bus dijadwalkan berangkat dari situ sekitar pukul setengah empat sore. Namun, ternyata bus tiba di Pall pukul 6 petang. Lalu lintas di sana padat sekali. Kondisi juga hujan deras. Semua memaklumi, katanya.

Sekitar pukul 6 lewat 15 akhirnya bus berjalan. Pelan, tidak juga ngebut karena jalanan padat. Begitulah seterusnya, ceritanya tidak akan jauh beda dengan berita-berita tentang arus mudik lebaran tahun 2014: macet, macet, dan macet yang sangat parah. Yang lebih parah, yang saya rasakan selama di dalam bus AC merk Handoyo tersebut, ternyata sopirnya merokok di dalam bus ber-AC! Kebayang nggak sih, merokok di bus yang ber-AC. Pengap pasti jadinya… Padahal di dinding kacanya juga tertempel stiker: dilarang merokok di ruangan ini. Saya kepikiran negur, tapi langsung teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, sopir biasanya egonya tinggi, tidak mau ditegur. Nanti akhir-akhirnya dia malah ngambek. Ya, sudahlah. Saya mencoba mencari nomor HP pengaduan pelanggan, biasanya kan ada stikernya ditempel di dinding bus. Tapi tidak ada.. Oalah, Handoyo… Handoyo… Kapok saya naiki kamu..

Selama perjalanan, saya mencoba untuk tetap berpuasa. Saya mikirnya, kalaupun saya tidak puasa, sepertinya saya juga tidak memiliki kesempatan untuk makan di jalan. Kenyataannya memang selama pagi, siang, dan sore hari, bus hanya berhenti sekali untuk istirahat. Itu pun pada pagi harinya. Baru kemudian pada malam harinya istirahat lagi di daerah alas roban. Keputusan untuk tetap puasa ini akhirnya membuat perut saya kosong hingga hari minggu malam (masih di perjalanan).

Karena perut kosong, saya merasakan kepala agak pusing. Ya, saya merasakan bahwa saya akan mabok darat! Kepala sudah saya sandarkan pada sandaran kursi di depan saya. Tapi tiba-tiba, kok ya bus berhenti. Alhamdulillah, ternyata waktu istirahat. Cepat-cepat saja saya keluar bis, mencari udara segar. Sesegera mungkin saya lalu memesan makanan untuk mengisi kekosongan perut. Alhamdulillah, akhir cerita, saya tidak mabok darat hingga perjalanan tuntas. Fuuih…

Yang membuat pengalaman mudik kali ini semakin tak terlupakan adalah waktu tempuhnya. Ya, akhirnya saya tiba di Blora, pada hari Senin pukul 3.00 dini hari. Saya itung-itung sekitar 33 jam saya di atas bis. Senin itu sudah lebaran lho… Karena teler ya terpaksa akhirnya tidak bisa ikut bersama-sama sholat Ied.

Ya, mau bagaimana lagi… Yang jelas saya kapok mudik lebaran… Tapi kalau naik kereta api, mungkin bisa dipertimbangkan lagi. Hihi…

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s