Write Good or Die

Barusan, pas buka-buka folder ebook saya di laptop, tiba-tiba tertarik baca ebook berjudul ‘write good or die‘. Subhanallah, di kepala saya langsung terbayang terjemahnya ‘menulis yang baik atau mati’. Wow, ekstrim sekali ya? Jangan-jangan ini aliran sesat atau bagaimana ya, kok sampai teganya hanya memberi satu pilihan, soalnya pilihan yang satunya lagi adalah mati. Astaghfirullah… Berikutnya, ada lanjutan subjudulnya, ‘survival tips for the 21st century‘. Lagi-lagi, di benak saya lahir terjemahan begini: ‘tips bertahan hidup di abad ke-21.’ Ah, makin penasaran saya.. Jadi pengin tahu apa butir-butir pemikiran dari aliran mereka ini.. Simak ya.

Oh, ternyata buku ini ditulis oleh Scott Nicholson. Kita bisa simak pemikirannya ini melalui blognya di http://writegoodordie.blogspot.com. Jadi ceritanya begini. Dia ini sangat terobsesi dengan menulis. Beberapa kali dia mencoba memasukkan tulisannya ke penerbit, tetapi gagal. Tapi begitu berhasil, dia merasa ingin berbagi tips keberhasilan. Tapi, sepertinya belum pede seratus persen. Kemudian dia mencari tips-tips yang dimiliki oleh penulis lainnya, yang menurutnya sudah sukses. Sayangnya, dia menemukan masing-masing penulis memiliki tips yang berbeda satu dengan yang lain. Dia jadi curiga, jangan-jangan tidak ada nasihat penulisan yang bisa berlaku bagi semua orang. Makanya, pada awal dia menyusun ebook ini, dia kepikiran untuk memberi judul, ‘All writing advices is wrong‘ alias ‘semua nasihat kepenulisan itu salah’.

Judul yang aneh, bagi saya. Jangan-jangan memang Scott ini orangnya aneh. Atau jangan-jangan dia memiliki pemikiran bahwa judul suatu tulisan atau buku memang harus aneh bahkan cenderung menyalahi kebenaran umum yang ada di masyarakat. Walau akhirnya judul itu diganti, entah karena mungkin dia juga mau menulis nasihat kepenulisan, gantinya pun tetap aneh.

Tips pertama, datang dari Kevin J. Anderson. Suatu ketika dia dimintai nasihat tentang jalan pintas untuk menjadi penulis sukses. Penananya mempermasalahkan waktu yang dia tidak miliki. Jawaban Kevin lugas, ‘Tidak ada orang yang bisa memberi kita tambahan waktu. Saya harus membuat waktu itu sendiri, mengatur prioritas, mendisiplinkan diri untuk menulis setiap hari, tak memandang bagaimana lelahnya saya hari itu. Saya bekerja fulltime juga selama saya menulis novel. Saya mengorbankan waktu malam bahkan di akhir pekan. Itu saya.’

Tentang jalan pintas, dia mengaku tidak ada. Bahkan, statistik kepenulisannya adalah 800 penolakan, 94 buku terbit, 41 di antaranya best seller nasional atau internasional, dan tulisannya ada yang diterjemahkan hingga 30 bahasa di dunia. Tulisannya hampir 10 juta kata sejauh ini.

Hingga akhirnya Kevin ini kepikiran untuk menulis buku berjudul ‘Bagaimana menjadi penulis bestseller dalam dua puluh tahun atau kurang.’ Sayangnya, dia mengakui, sepertinya dia tidak memiliki waktu untuk itu. Hmmm, ini namanya menyindir orang yang mengeluh tidak punya waktu untuk menulis. “Nyindir aku wong iki…!!! nyindir aku!!!” teriakku kencang, meski hanya dalam hati.

– Bersambung, insya Allah

Lenteng Agung, 9 Agustus 2014

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s