Mahalnya Sebuah Konsistensi

Beberapa waktu lalu, saya bertekad membuat gerakan ODOJ aka One Day One Judul. Artinya, setiap hari saya akan membuat satu judul tulisan di blog ini. Ternyata eh ternyata, ada satu hal yang saya lewatkan: konsistensi. Ya, pada saat saya menulis postingan sebelumnya, saya begitu optimis bisa menulis satu judul setiap hari. Tapi kenyataannya saya tidak melakukannya. Saya tidak konsisten, Saudara-Saudara…

Ah, mahalnya harga sebuah konsistensi. Tetapi, kalau boleh saya membela diri, saya akan bercerita mengapa saya tidak sempat menulis. Kalau masalah ide, insyaAllah masih ada. Hanya saja, mengikuti pelatihan model klasikal (tatap muka) di mana saya hanya duduk seharian di kelas ternyata membuat lelah. Setidaknya lelah di pinggang.

Tidak sampai di situ, saya menempuh perjalanan dari rumah ke tempat diklat mengendarai sepeda motor. Di perjalanan, jangan tanyakan apakah saya menemui kemacetan atau tidak. Mengapa, karena pasti jawabnya ada macet. Jalan Raya Kalimalang merupakan jalan yang tidak ramah bagi pengguna jalan. Demikian pula jalan MT Haryono yang ketika sore masih ramai lancar, ternyata malam bakda isya macetnya ruarr biasa….. Sudah lebih dari cukup untuk membuat saya kapok pulang malam.

Sampai di rumah, alhamdulillah. Hanya rasa capek yang akhirnya memaksa saya untuk tidak sempat membuka laptop dan menuliskan beberapa gores kata. Akhirnya, konsistensi saya pun gugur.

Konsistensi adalah barang mahal. Hanya orang yang konsisten melakukan sesuatu lah yang akhirnya menjadi orang yang berhasil dalam sesuatu tersebut. Orang yang konsisten berolah raga tentu akan memiliki badan yang sehat. Lebih beruntung kalau misalnya dia menjadi atlet di bidang olah raga tersebut.

Orang yang konsisten menulis tentu akan lebih baik tulisannya di banding yang kegiatan menulisnya hanya angin-anginan, kapan dia mau baru menulis.

Orang yang konsisten melakukan sesuatu aktivitas tertentu yang bersifat profesi pada dasarnya sedang investasi menuju status tingkat kepakaran tertentu. Sebagai misal, tidak mudah menjadi seorang pakar pengembangan sistem jika dia tidak konsisten bergelut dengan aktivitas terkait. Mungkin Anda pernah mendengar bahwa kepakaran akan tercapai jika seseorang melakukan aktivitas di bidang tersebut dalam waktu lebih kurang 10.000 jam? Konsisten adalah modalnya. Memang mahal, tapi Allah sudah memberikannya kepada kita sebagai modal internal.

Hanya saja, bisakah kita memanfaatkan modal tersebut?

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s