Penjahit Dunia vs Penjahit Akhirat

Ini merupakan salah satu hikmah yang saya dapatkan dari agenda silaturahim orang alim, dalam hal ini seorang ustazah, beberapa bulan silam. Seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, kali ini akan saya sampaikan pengalaman beliau dalam menjalani liku-liku kehidupan. Satu di antaranya adalah pengalamannya mengelola usaha jahitan.

Beliau pernah mempekerjakan beberapa karyawan untuk usaha menjahit. Selain membantu ibu-ibu pekerja mendapatkan sesuap nasi, beliau juga berniat untuk membantu siswa-siswi pesantren melalui ongkos yang murah atas jasa jahit bagi mereka. Tujuan yang mulia bukan?

Salah satu cerita yang beliau sampaikan, adalah tentang penjahit dunia dan penjahit akhirat. Dalam tuturannya, beliau mengatakan bisa membedakan mana yang penjahit dunia dan mana yang penjahit akhirat. Caranya sederhana sekali. Beliau hanya melihat kualitas jahitan dari kancing bajunya, terutama bagi para siswa-siswa pesantren As’adiyah Sengkang. Apabila kualitas jahitan kancing baju itu alakadarnya, katakanlah asal terpasang, bisa jadi itu adalah karya dari seorang penjahit dunia. Penjahit dunia relatif bersifat asal jadi dan jadi uang.

Di lain sisi, manakala kualitas jahitan kancing baju itu bagus, dibuat dengan kuat karena diikat dengan ikatan benang yang cukup dan kokoh, bisa jadi itu adalah karya penjahit akhirat. Ya, penjahit akirat tentu akan mempertimbangkan aurat pengguna baju tersebut. Jangan sampai hanya karena kainnya tertarik sesuatu, kancinya menjadi lepas. Terlebih jika yang menggunakan baju tersebut adalah siswa-siswi pesantren. Ibaratnya, mereka adalah calon-calon mujahid zaman sekarang melalui aktivitas menuntut ilmu agama. Dengan memfasilitasi kenyamanan dan keandalan pakaian mereka, barangkali salah satu cara penjahit akhirat menabur benih-benih pahala untuk akhiratnya kelak.

Nah, bagi kita di dunia kerja masing-masing, tanyakan pada diri sendiri, apakah kita ini pekerja akhirat atau dunia?

Demikian, semoga cerita dari ustazah di atas bisa membuka tabir, siapa diri kita sebenarnya. Terima kasih.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s