Foto Bersama

Foto bersama keluarga, di era sekarang ini, tampaknya masih dipandang perlu. Setidaknya, itu pendapat yang disampaikan oleh seorang ustazah dari Bumi Sutera, Sengkang, beberapa bulan yang lalu. Dalam sebuah kesempatan silaturahim saya, beliau mengungkapkannya.

Menjadi penting, terlebih jika kita memiliki sanak saudara yang sudah terpisah karena pergi ke tanah perantauannya masing-masing. Seperti halnya isteri saya yang merupakan bagian dari banyak bersaudara. Isteri saya ke Jakarta, sementara kakak-kakaknya ada yang di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Yang di Sulawesi Tengah pun berbeda kota dan kabupaten. Sangat mungkin di masa mendatang, anak-anak kami akan saling tidak mengenal satu dengan yang lainnya. Fatalnya, itu bisa berujung pada terputusnya tali kekerabatan. Duh!

Nah, di sinilah peranan foto bersama keluarga besar menjadi penting. Ayah atau ibu bisa memperkenalkan kepada anak-anaknya, setidaknya melalui foto-foto bersama, siapa saja orang-orang yang ada di foto tersebut. Mungkin paman, bibi, sepupu, keponakan, dan seterusnya.

Hal ini semakin dimudahkan ketika teknologi sudah sangat mendukung dan murah. Ponsel cerdas sudah dilengkapi dengan kamera yang bisa merekam gambar dalam jumlah di luar nalar karena kapasitas penyimpanannya. Saya sebut di luar nalar karena kita jepret sana jepret sini media penyimpanan itu belum habis-habis juga. Hingga ketika mau habis, kita bingung foto yang mana yang akan dibuang.. Habis nalar sudah, tadinya diambil, sekarang dibuang.

Namun, perlu saya tambahkan di sini, bahwa berfoto, baik bersama keluarga ataupun tidak, harus tetap mengindahkan norma-norma yang berlaku. Norma agama, jelas kita harus menutup aurat dan menjaga jarak dengan orang yang bukan mahram. Norma yang lain, bisa diperkirakan sendiri. Jika bingung, silakan tanyakan pada hati nurani Anda sendiri, pasti tahu.

Demikianlah. Sayangnya, saya lupa siapa yang pada momen itu ponselnya dipakai untuk memfoto bersama… Duh, padahal saya mau menyertakannnya di postingan ini… Wkwkwk…

Pos ini dipublikasikan di Cerita Inspirasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s