Membaca Semua Email Itu Beban

Tidak masuk kantor selama beberapa hari karena sedang cuti, ternyata menimbulkan sedikit ganjalan dalam urusan ber-Internet. Salah satu kebutuhan saya dengan Internet adalah komunikasi melalui email. Baru saya sadari ketika saya tidak menengok email sekitar empat hari lamanya, ternyata ada ratusan pesan masuk di inbox gmail saya. Ugh!!!

Pada hari kerja biasanya saya membaca email tersebut pagi-pagi sambil lalu saja, sehingga tidak terasa email yang belum terbaca hilang dari pandangan sekitar pukul 9 pagi. Nah, ketika kini saya dihadapkan pada ratusan email yang belum terbaca, rasanya seperti ada beban bahwa semua email tersebut harus saya baca, dalam artian saya buka satu persatu sehingga statusnya menjadi read alias sudah dibaca. Padahal belum benar-benar saya baca, hihi.

Kalau sekadar membuka email satu per satu menjadi beban, apalagi  membacanya satu per satu? Tidaaaak…!! Kalau begitu, mengapa saya tidak menghapus saja email-email tersebut selagi dalam status belum terbaca? Jawabnya sederhana. Saya hanya mencoba berada pada posisi si pengirim. Bagaimana perasaan kita kalau surat kita tidak dibaca oleh orang yang memang kita jadikan tujuan penerima surat?

Memang benar, sebagian besar surat (elektronik) tersebut dikirim oleh robot, tetapi kan ada sebagian dari isi surat tersebut yang dibuat menggukan akal dan perasaan si penulis? Kalau robot yang menulis semuanya, oleh Gmail biasanya sudah dikelaskan pada folder SPAM alias sampah. Nah, di folder sampah ini biasanya langsung saya hapus semua.

Atas kesadaran bahwa membaca email (yang banyak) itu beban, pagi ini saya mencoba meng-unsubscribe atau undur diri dari layanan-layanan yang biasanya tidak saya hiraukan. Ada yang dari dalam negeri ada juga yang dari luar negeri. Ada yang berbeda pada email yang berasal dari dalam dan luar negeri. Yang dari luar negeri, biasanya menyertakan link untuk unsubscribe, sedangkan yang dari dalam negeri ternyata tidak menyertakan link seperti itu. Jadi, sepertinya ada attitude yang berbeda dalam hal mengirim email pemberitahuan layanan seperti itu.

Kalau saya pribadi, lebih respek pada email yang menyertakan link unsubscribe. Bisa jadi lho, orang yang kita email itu pada suatu saat menjadi tidak ingin dikirimi email lagi. Sama seperti saya saat ini. Hihi..

Tetapi, maaf ini ada tetapinya. Ternyata link unsubscribe tidak bisa diharapkan benar-benar bekerja 100%. Alasannya, ada yang sudah saya pilih unsubscribe tetapi ternyata masih juga mengirim email ke saya. Ya sudah, tanpa rasa berat hati, saya meminta Gmail untuk menandainya sebagai SPAM alias sampah: “Report as spam.”

Blora, 21 Desember 2015

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s