Kejujuran Warga Yogya

Beberapa hari yang lalu, saya bersama keluarga menyempatkan diri mengunjungi famili di Yogyakarta. Suasana Yogya masih kurang lebih seperti dulu yang tetap membuat hati saya nyaman untuk bermalam di sana. Terlebih di Sleman, bagian pinggir dari provinsi istimewa ini yang hawanya relatif lebih sejuk dan polusinya masih sedikit. Ada beberapa hal yang membuat saya terpaksa untuk menulis sebuah nilai kemanusiaan dari kunjungan saya ke sana, yakni nilai kejujuran.

Bicara tentang kejujuran, biasanya yang diceritakan adalah tentang orang menemukan suatu barang bukan miliknya kemudian dikembalikan kepada pemilik barang tersebut. Tapi kali ini agak sedikit berbeda. Bukan cerita seperti itu.

Cerita pertama, ketika saya naik bus masing-masing satu kali untuk  jurusan Yogya – Borobudur dan jurusan Borobudur -Yogya. Siapa sangka jika untuk jarak tempuh yang sam, ternyata saya mendapatkan tarif yang berbeda. Bus yang pertama, pak kondektur menarik tarif pembulatan ke atas. Sedangkan pada bus yang kedua, pak kondektur membebankan tarif yang pas dengan mengembalikan beberapa lembar rupiah. Nah, setelah naik bus yang kedua inilah saya baru tahu ternyata di bus pertama tadi pembayarannya dibulatkan ke atas. Hihi…. Saya jadi salut pada pak kondektur kedua, karena ada kejujuran yang dia tanamkan pada diri dan pasti bagi keluarganya. Padahal kalau dipikir-pikir, saya ini kan orang baru, pasti mudah untuk dikibulin soal ongkos naik bus seperti itu. Semoga rezekimu berkah, Pak kondektur… Aaamiiin.

Cerita kedua, ketika saya belanja bakpia di daerah Pakem. Kali ini tentang tukang parkirnya. Ketika saya menyodorkan uang parkir, beliau ternyata menolak pemberian itu. Dia bilang, “Sudah mas.” Dalam hati saya kaget, ada juga tukang parkir yang jujur seperti ini. Padahal, biasanya tukang parkir yang sudah digaji sama bosnya, tidak menolak jika ada pengunjung yang memberinya uang. Padahal lumayan lho, kalau dipikir setiap 15 menitan ada sekitar 7 – 10 kendaraan. Katakanlah setiap 15 menit ada 7 kendaraan, dalam satu jam, ada 28 kendaraan. Jika rata-rata setiap kendaraan membayar dua ribu rupiah, dalam satu jam dia akan mendapatkan tidak kurang dari 56 ribu rupiah. Semoga nafkahmu berkah, Pak tukang parkir. Aaamiiin.

Nah, cerita kedua tentang tukang parkir ini jadi mengingatkan saya pada perparkiran di Samsat Jakarta Timur. Di lapangan parkirnya terpampang tulisan besar “Parkir Gratis.” Ternyata eh ternyata, di pintu keluar parkirnya ada beberapa petugas yang seolah-olah hendak menarik ongkos parkir bagi pemilik kendaraan yang selesai parkir. Dan, kenyataannya pun demikian, tidak sedikit pengendara yang menyerahkan sejumput uang kepada petugas-petugas di sana.

Giliran saya pun tiba. Tetapi saya memberanikan diri untuk bertanya, “Parkir gratis kan?” Petugas yang ada di depan saya pun mempersilakan saya melenggang. Hihi…

Pos ini dipublikasikan di Catatan, Cerita Inspirasi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s