Welcome Home

Setelah hampir 15 tahun, akhirnya saya balik lagi ke kampung halaman. Bukan untuk kangen-kangenan, tetapi memang jalan hidup saya ke situ. Bismillah!

Banyak hal yang berbeda dari ibukota. Ah, klise amat ya. Ya jelas iya berbeda lah… Secara satunya ibukota negara dan satunya lagi bukan siapa-siapa. Haha…

Tulisan ini sekadar testimoni saja. Berbeda secara kasat mata mungkin siapapun bisa melihatnya, tetapi berbeda setelah dirasakan jelas baru bisa disampaikan oleh orang yang mengalami dua hal yang berbeda tersebut. Dalam hal ini saya. Bekerja masih di payung organisasi yang sama, jam kerja masih sama, seragam masih sama. Hanya jenis pekerjaan dan tanggung jawabnya yang berbeda.

Nah, gini bedanya. Pertama, kelelahan fisik. Di Jakarta, untuk mencapai kantor, saya harus berangkat paling lambat jam setengah 7 pagi. Naik motor, saya melajukan kendaraan semaksimal mungkin untuk menjangkau stasiun tebet. Alhamdulillah hingga detik ini tidak ada insiden berarti dalam perjalanan saya. Kalau bukan kemurahan Allah dan panjatan doa orang-orang baik, mungkin ceritanya bisa lain.

Saya melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi kereta (commuter line) menuju stasiun Lenteng Agung yang biasa disingkat LA (bukan Los Angeles). Di atas kereta, saya biasanya menyempatkan diri membaca timeline twitter, browsing berita, dan sesekali membaca arsip artikel yang saya simpan di aplikasi GetPocket.

Sesampai di stasiun LA, saya biasanya lari tergopoh-gopoh menuju kantor. Jika masih ada waktu 15 menit sebelum pukul 7.30, saya berjalan masih santai. Begitulah, rutinitas setiap hari ketika masih di Jakarta. Jakarta keras, Bung!!! Alhamdulillah, berkat gaya seperti itu, badan saya sehat. Gimana enggak, setiap hari kerja ada aktivitas jalan dan sesekali lari pagi…?

Lah, setelah saya ke kampung, ternyata berbeda. Mengingatkan saya pada saat merantau di Pulau Sulawesi, rumah ke kantor hanya 3 menit jalan kaki. Hehe… Tapi di sini ya ndak sedekat itu. Perlu sekitar 5 sampai 10 menit untuk sampai kantor mengendarai sepeda motor.

Beda yang paling saya rasakan dari gaya transportasi ini? Di sini, pulang kantor tidak terasa begitu lelah. Itu salah satu bedanya.

Terus, yang tak kalah mautnya, adalah biaya hidup. Ah, kalau yang ini tidak usah diceritakan ya. Siapapun juga langsung tahu begitu membandingkan UMP dan UMR-nya…

Segitu dulu, kula badhe aktivitas sanesipun….

Cepu, 3 April 2016

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s