Ketangguhan Mental Tukang Sensus

Di tingkat II daerah di kampung saya, tercatat tukang sensus sebanyak 752 petugas. Angka yang kecil dibandingkan dengan jumlah petugas di kota-kota besar lainnya. Dan tentunya, dibandingkan dengan tukang-tukang sensus di daerah lain, tantangannya berbeda pula. Seperti yang saya simak ceritanya tadi malam, ketika saya menyempatkan diri bersilaturahim ke tim petugas di ibukota kabupaten, ada sebuah cerita yang menarik. Menurut saya sayang untuk tidak diceritakan.

Alkisah, seorang tukang sensus perempuan, pada suatu siang yang terik, pada sebuah pintu rumah warga yang entah kesekian. Beberapa langkah sebelum menghampiri pintu, tiba-tiba si empunya rumah, seorang pria tua, menutup pintunya. Ya, dalam hitungan detik setelah kedua orang itu bertemu pandangan. Jelas ada gestur penolakan atas kedatangan tukang sensus. Namun, si tukang ini tetap kukuh untuk mengetuk pintu. Nah, tuan rumah pun langsung naik pitam tidak lama berselang setelah ia sedikit menarik daun pintu, sembari mengeluarkan hardikan. “Saya kan sudah tutup pintu, tidak mau menerima tamu!”

“Saya petugas sensus, Pak,” jawabnya pelan seraya berharap si tuan rumah luluh. “Ini surat tugas saya,” tambahnya lagi seraya menyodorkan selembar kertas bertanda tangan dan bercap basah sebuah lembaga Pemerintah. Pria itu duduk di kursi ruang tamu sembari melihat surat tugas itu tanpa mempersilakan mbak tukang sensus untuk duduk. Mbak tukang sensus mencoba membujuk pelan tuan rumah agar mau ditanya-tanyai sekilas, setidaknya informasi ada tidaknya usaha di rumah tersebut. Dia mencoba mendekat ke kursi lain yang terpisah jarak sebidang meja dari lelaki sepuh itu. Tiba-tiba lelaki sepuh itu menggebrak meja, sembari menyampaikan kalimat penolakan. “Sudah saya bilang, saya tidak mau disensus, yang lain saja!”

Njumbul, mungkin istilah yang tepat dengan bahasa setempat untuk menggambarkan apa yang dirasakan mbak tukang sensus tadi. Kalau boleh diterjemahkan, rasanya seperti kaget, takut, disertai badan sedikit tergoncang dan tentu pula jantung berdegup kencang. Dan semua rasa itu beraduk, bercampur dalam satu waktu. Hampir saja mbaknya menangis…

Di situ saya merasa sedih….

Tetiba pertolongan datang. Suara gebrakan meja tadi rupanya menarik istri pak tua itu keluar menuju ruang tamu. Di situlah akhirnya prosesi sensus tetap berlanjut. Lelaki berumur itu hanya diam terlihat menyimak tanya jawab yang mengalir antara tukang sensus dan si ibu.

Fuuih…!  Di situ saya merasa lega…

Seperti itulah realita yang dihadapi tukang sensus di sini, kawan. Itu baru sekeping cerita sekaligus derita yang dialami oleh petugas sensus. Dan saya pun mulai menerawang, pengalaman serupa apa yang kira-kira akan dialami oleh tukang-tukang sensus yang ada di kota-kota besar, semacam Jakarta dan sekitarnya.

Mental kalian setangguh baja, mbak dan mas tukang sensus. Kalian pasti bisa melalui ini semua dan menjadikannya kekayaan pengalaman yang belum tentu dimiliki dan dirasakan, sekalipun oleh petinggi penyelenggara sensus ini. Salut! Teruslah berjuang untuk generasi Indonesia yang lebih maju perekonomiannya!

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s