Melawan Lupa

Mendengar judul postingan kali ini, jangan berharap saya akan mengupas masalah politik. Ya, frase ‘melawan lupa’ sangat identik dengan gerakan perjuangan arus bawah tanah untuk menagih janji-janji politik para pemimpin pemerintahan. Wajar, karena memang pemimpin-pemimpin tersebut menggunakan modal berupa janji-janji dalam berbagai kampanyenya sebelum perhelatan pemungutan suara. Nah, janji-janji itulah yang kadang, setelah acara pelantikan mereka sebagai orang nomor satu wilayah masing-masing, tinggalah janji. Sangat satir ketika pada kenyataan seperti ini, tiba-tiba terdengar sayup sebuah penggalan lagu: ‘kau yang berjanji, kau yang mengingkari… ooooh…. ya nasib, ya nasib… mengapa begini…

Sekali lagi, saya tidak akan bicara politik. Saya menulis postingan ini hanya ingin membuat sebuah refleksi diri yang saya harap juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Begini refleksinya…

Yang namanya manusia pasti tidak pernah luput dari alpa dan dosa. Orang yang mengaku tidak memiliki kesalahan besar, pasti memiliki kesalahan kecil. Nah, ketika kesalahan-kesalahan kecil itu tidak dia anggap besar, niscaya kesalahan itu akan membesar bahkan menggunung, layaknya peribahasa yang kita kenal dahulu: ‘sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.’

Manusia yang masih mendapat kasih sayang Tuhan, biasanya akan merasa gelisah ketika dirinya berbuat salah. Ada semacam alarm yang ada di dalam sanubarinya untuk mengingatkan bahwa dirinya ada di jalur yang salah. Begitulah. Semoga kita semua senantiasa dikaruniai alarm nurani yang bersih. Aamiin…

Kemudian, di saat kita melakukan penyesalan, seringkali kita berjanji kepada diri sendiri serta kepada Tuhan semesta alam, untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Untuk tidak melakukan kembali kenistaan yang membuat hati gelap dan bernoktah. Sesembari tersengguk di antara jam-jam yang orang pada umumnya tidak berada di alam sadar. Sesembari memohon ampun dan rahmat dari Tuhan yang maha pengampun.

Dan, janji-janji itulah yang seharusnya tetap diingat manakala kita melanjutkan aktivitas di hari-hari selanjutnya. Namun, sayang seribu sayang, pada kenyataanya, janji itu kita lupakan begitu saja. Ya, ada anugerah bernama lupa yang kemudian menjadi bumerang atas pertobatan yang sudah kita lakukan. Tidak saja duka dan nestapa yang bisa digerus oleh penyakit berlabel lupa, tetapi ilmu dan janji-janji kebaikan juga sesekali diterabas oleh penyakit ini. Padahal, pada janji-janji itu terdapat jaminan keindahan balasan janji Ilahi yang tiada pernah tebersit di benak manusia sekalipun.

Lantas, bagaimana kita melawan lupa? Sementara, yang namanya setan itu begitu sigap menyergap alam bawah sadar kita sesaat kita lengah. Lalu kita merasa tidak ada yang salah manakala mencoba bersengaja melupakan penyesalan dan janji-janji yang sudah dilakukan. Dalihnya satu, toh nanti bisa bertobat lagi, Tuhan kan maha penerima tobat….

Memang benar, Tuhan maha menerima tobat. Tetapi ada hal rahasia tentang diri kita yang tetap dijaga hingga kita tidak tahu apa isi rahasia itu. Padahal itu tentang kita, tentang diri kita, bukan orang lain. Rahasia apa itu? Mati. Katakanlah, pada hari Senin kita bertobat. Selasa menyengaja kambuh mengukir dosa yang sama, dengan optimisme Jumat nanti akan bertobat lagi dengan sebenar-benarnya tobat. Selasan dan Rabu kemudian berlalu, tetapi malaikat mana yang akan bisa mencegah bergulirnya rahasia Tuhan jika Kamis esoknya, tiba-tiba kita mati? Tiba-tiba kita tidak bisa merasakan kaki kita, tangan kita, badan kita….

Ah, sesak rasanya saya menulis postingan kali ini. Sudah ya. Jujur saja, saya bukan orang yang ahli atau pakar di bidang melawan lupa. Saya pribadi sering lupa, bahkan berpura-pura lupa, bahwa mati saya bisa kapan saja terjadi. Tetapi saya berbekal satu keyakinan dan prasangka positif kepada Tuhan: “Apa yang menimpa saya, Tuhan sudah gariskan…Dan itu yang terbaik.”

Bismillah, kita awali aktivitas pagi ini dengan kalimat agung ini…

Mohon maaf apabila ada kesalahan.

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s