Diari Pekerjaan

Selama ini, banyak orang yang sudah membuat catatan hatinya dalam bentuk catatan harian. Ada yang rajin setiap hari menuliskan apa hal paling berkesan yang dialaminya saat itu. Ada juga yang rajin setiap hari Senin dan Kamis. Ada pula yang tidak kalah rajin menulis catatan harian setiap beberapa hari sekali. Ada yang kemudian menulisnya dalam bentuk buku tulis, ada juga yang dalam bentuk digital, semisal dalam bentuk berkas word, notepad, dan yang sebangsanya. Seiring berkembangnya teknologi, catatan-catatan itu dituangkan dalam bentuk tulisan di blog, di berbagai media sosial, hingga dalam bentuk vlog aka blog berupa video. Demikian pula berbagai platform aplikasi media sosial yang kian menjamur telah memungkinkan bahkan memudahkan seseorang untuk membuat catatan harian apapun isi dan kemasannya.

Akan tetapi, saya mencermati belum ada yang serius membuat catatan harian pekerjaannya. Realitasnya, jika pun diminta membuatnya, catatan tersebut dibuat pada H-1 pengumpulan catatan. Tidak berbeda jauh ketika sistem presensi masih manual mengandalkan tanda tangan pegawai. Kenyataannya saat itu, presensi dua bulan sebelumnya baru dibuat sekarang. Setiap pegawai diminta untuk tanda tangan. Hmmm, mana ingat dua bulan lalu masuk dan pulang jam berapa…

Kembali ke catatan pekerjaan…

Selanjutnya, biarlah saya menyebut catatan pekerjaan dengan diari pekerjaan. Sebenarnya sudah ada beberapa aplikasi yang memudahkan kita membuat catatan semacam ini, misalnya aplikasi berbentuk to-do-list. Tetapi, sayangnya, model seperti ini bagi saya hanya bersifat sementara, karena ternyata di kemudian hari sama sekali tidak membawa manfaat untuk saya karena tidak pernah saya tengok lagi. Akibatnya sesekali saja saya menggunakannya jika saya memerlukannya. Bukan sebagai sarana diari pekerjaan.

Padahal saya mengharapkan catatan yang lengkap, termasuk misalnya hari ini saya menyerahkan dokumen apa ke siapa, menandatangani berkas penting apa, menerima data dari mana, dan sebagainya. Selain itu, tentu saja dengan mencatat apa saja yang saya lakukan setiap hari kerja, saya merasa bahwa gaji dan amanah saya bisa dipertanggungjawabkan, setidaknya kepada diri sendiri dan Tuhan YME.

Saya sempat mencoba menggunakan cara konvensional, mencatat dalam bentuk narasi di sebuah berkas word. Sayangnya, itu hanya bertahan sehari, dua hari, dan tiga hari. Tidak lebih. Mungkin karena masih terselip kata ‘malas’ di alam bawah sadar saya sehingga saya menjadi seperti itu.. Atau juga mungkin karena saya tidak ada waktu? Ih, sok!!….

Hingga saat ini, saya masih mencoba mencari jalan untuk membuat diari pekerjaan. Mengapa? Karena bagi saya itu penting. Sekali lagi penting, meski tidak mendesak.

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s