Buku Kereta

Pada momen perjalanan ke Blora beberapa hari bulan yang lalu, saya agak sedikit terkejut dengan apa yang telah saya lakukan saat itu. Ya, kala itu saya menghabiskan sebuah buku selama perjalanan darat menggunakan ular besi (baca: kereta api). Jujur, sudah lama sekali saya tidak menghabiskan buku sekali waktu. Yang terjadi biasanya adalah buku dibaca tetapi tidak tuntas 100 persen. Kadang 80 persen, kemudian bosan. Besoknya, lupa lagi meneruskan. Lusanya, bahkan enggan meneruskan. Ya, beginilah barangkali kalau memang tidak memendam bakat seorang akademisi.

Saya jadi curiga, jangan-jangan bukunya ini memang enak untuk dibaca. Memang sih, menurut hemat saya, isi buku ini lumayan mengalir dengan topik yang dekat dengan keseharian saya pula.

Belakangan, saya mencoba beberapa cara agar bisa menghabiskan buku, dalam artian membaca buku dari awal sampai akhir. Sebagai contoh, di meja saya, hanya saya sediakan satu buku yang saya targetkan bisa dibaca sampai habis. Eh, ternyata ada buku lain yang menarik sehingga gagal fokus. Walhasil, di meja terhampar tidak hanya satu judul buku. Dua atau tiga…

Cara lain, saya mencoba membeli novel, sebagai pemicu minat baca saya. Berdasar pengalaman, saya bisa membaca habis novel-novel yang saya beli. Dulu, ketika itu booming novelnya Kang Abik. Demikian pula dengan novel yang bercerita tentang kehidupan di pondok pesantren. Ah, yang ini saya lupa judul dan penulisnya. Begitulah, saya pun membeli novel lagi. Judulnya sih bagus, sayangnya sudah satu bulan lebih belum selesai pula saya baca.

Cara lain lagi, saya membaca dengan menyiapkan situasi yang tenang. Konon, ketenangan bisa membimbing kita konsentrasi dan akhirnya membawa kita hingga halaman terakhir sebuah buku. Kenyataannya, saya bisa mendapati ketenangan itu ketika anak-anak saya sudah tidur. Saya mulai membaca buku di saat seperti itu. Ternyata, harapan saya tidak mulus. Lima belas menit pertama, saya menikmati membaca buku. Tetapi, lima menit sesudahnya, membaca justru menjadi aktivitas di alam bawah sadar. Saya tidak memahami lagi apa yang saya baca. Saya mengantuk. Beberapa saat kemudian, saya sudah tertidur.

Akhirnya, saya simpulkan apa saja yang mungkin menggagalkan niat saya menghabiskan sebuah buku. Minat, tekad, dan kesempatan. Kalau tiga kombinasi tersebut ada, insyaAllah buku apapun bisa kita habisi. Maksud saya kita habiskan membacanya. Sama seperti buku yang saya baca di kereta tempo hari itu. Semoga semakin banyak ‘buku-buku kereta’ lainnya…

 

 

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s