Kemiskinan

Saya baru tahu kalau ada yang namanya hari pemberantasan kemiskinan sedunia. Hari itu jatuh pada tanggal 17 Oktober. Saya mengetahuinya setelah menyimak wawancara Kepala BPS RI, Dr Suhariyanto, di salah satu siaran radio swasta di Jakarta, pada bulan lalu. Berikut saya coba sarikan beberapa informasi. Semoga saja bermanfaat, setidaknya bagi saya sendiri.

Angka kemiskinan di Indonesia pada bulan Maret 2015 sebesar 28,6 juta jiwa (11,22%). Sementara untuk tahun ini, pada bulan Maret 2016 jumlah penduduk miskin menjadi sekitar 28 juta jiwa (10,86%). Secara kasat mata dengan melihat angkanya, bisa kita katakan bahwa kemiskinan menurun, walau sedikit.

Kemiskinan memang menurun, tetapi ada beberapa persoalan. Pertama, disparitas tingkat kemiskinan antar provinsi sangat tinggi. Misalnya di Jakarta 3,75% sedangkan di Papua 28%. Kedua disparitas desa dan kota juga tinggi, di kota sekitar 8% sedangkan di desa 14%.

Persoalan selanjutnya adalah gap atas dan bawah makin melebar. Ukurannya apa? Untuk melihat ketimpangan kemiskinan kita menggunakan angka gini ratio: 0 – 1. Semakin tinggi semakin timpang. Gini ratio pada Maret 2016 sebesar 0,4.

Oleh karena itu, Pemerintah perlu mencermati hal-hal sebagai berikut:

  • Kebijakan harus memperhatikan beberapa karakter: disparitas antar provinsi dan  antara desa/kota. Seperti misalnya Pemerintah harus mengetahui dan mempertimbangkan bahwa mayoritas penduduk miskin bekerja di sektor pertanian. sekitar 52%. Kemudian jika dana terbatas, apakah perlu konsentrasi ke pedesaan atau provinsi miskin.
  • Untuk kebijakan jangka panjangnya, berikan akses seluas-luasnya infrastruktur dasar kepada lapisan penduduk terbawah (pendidikan dan kesehatan)

52% PERSEN petani miskin. Kok bisa?
Mayoritas penduduk miskin bekerja di sektor pertanian.

  • Misal, julmah penduduk 31% bekerja di pertanian, share pertanian 14% ke pertumbuhan ekonomi. produktivitas di sektor pertanian relatif kecil
  • Jumlah petani gurem persentasenya banyak

Untuk menekan angka miskin, berikut ini yang dapat dilakukan oleh Pemerintah:

  • Jangka pendek: raskin, bansos
  • Jangka panjang: akses pendidikan dan kesehatan (KIP, KIS, BPJS). Harapannya, di masa mendatang kualitas SDM orang miskin meningkat

Lalu, apakah upaya Pemerintah saat ini masih kurang? Sebenarnya Pemerintah sudah berupaya banyak, tetapi tidak bisa seketika. Di daerah pedesaan, SMA dan PT itu masih sulit diraih.

Kapan mulai berpengaruh program Pemerintah itu? Kita tidak bisa memastikannya, karena itu akan dipengaruhi banyak hal: monitoring, implementasi apakah mulus.

Untuk memprediksi kapan kemiskinan akan turun pun tidak bisa. Dengan memperhatikan berbagai karakteristik. Kemiskinan adalah masalah multidimensional. Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga bidang sosial, budaya, serta politik dan hukum. Selanjutnya, usaha penanggulanan tidak hanya oleh pemerintah. Perlu kerja sama dan dukungan dari stakeholder: LSM dan masyarakat.

Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s