Mencari Insipirasi Menulis

Untuk menulis, barangkali sebagian besar di antara kita membutuhkan yang namanya inspirasi. Dengan inspirasi, kita bisa menelurkan satu gagasan dan mengembangkannya menjadi cerita yang mengalir. Dalam konteks aktivitas blogging, kadang kita tidak (sempat) menulis dengan dalih kekurangan gagasan. Pada kondisi seperti ini, kita membutuhkan yang namanya inspirasi.

Sinonim dari inspirasi adalah ilham. Dengan ilham atau inspirasi kita biasanya tergerak untuk melakukan suatu tindakan, entah itu menulis atau mengerjakan sesuatu yang lain. Inspirasi menjadi penting manakala kita dihadapkan pada situasi kebebasan untuk menulis. Artinya, kita dibebaskan untuk menulis apa saja tanpa dibatasi topiknya ini atau itu. Lho, kok bukannya enak diberi kebebasan?

Analoginya seperti ini. Kita disuruh belanja di suatu pusat perbelanjaan dengan berbekal misi mendapatkan barang A. Nah, ternyata setelah di pusat perbelanjaan tersebut kita dapati variasi barang A banyak sekali. Ada barang A seri 010, seri 020, seri 030. Belum lagi ada barang A merk 1, merk 2, merk 3. Itu belum ditambah barang A dengan status KW1, KW2, dan seterusnya. Kalau saya dihadapkan kasus seperti itu, biasanya saya lebih lama untuk memilih. Banyak waktu yang termakan karena bingung untuk memilih.

Kembali tentang mencari insipirasi menulis. Ada banyak cara yang dilakukan orang-orang demi mendapatkan insipirasi. Ada yang jalan-jalan ke suatu tempat, misalnya suatu obyek wisata. Ada juga dengan cara mengobrol dengan orang yang selama ini tidak dikenalnya. Ada juga yang membaca majalah. Ada yang menonton film, menyimak berita di televisi, dan sebagainya. Dan, di era kekinian, orang sepertinya lebih menyukai berselancar di Internet untuk menemukan inspirasi. Sama seperti saya.

Saya pribadi mencoba mencarinya di Internet, ketimbang membaca koran atau media tercetak lainnya. Paling mudah mendapatkannya di media sosial, semacam facebook atau twitter. Namun, perlu dipahami bahwa melalui media sosial tersebut nilai-nilai inspirasinya sangat tergantung dengan karakter orang-orang yang menjadi teman kita atau orang-orang yang kita ikuti update statusnya. Jika kebetulan teman-teman kita di sana kurang berpikir dewasa, misalnya lebih banyak curhatnya dan umpatan-umpatannya ketimbang berbagi kebaikan, maka bisa jadi timeline kita serasa berisi sampah.

Oleh karena itu, inspirasi di media sosial itu pada hakikatnya merupakan buah dari upaya kita sebelumnya. Kalau kita berteman dengan orang-orang yang berpikiran maju dan dewasa, maka kita pun akan ketularan kemajuan dan kedewasaan berpikirnya. Jika kita suka berbagi hal-hal positif di timeline kita, niscaya nilai-nilai kebaikan itu pun akan kembali kepada kita. Salah satu nilai positif itu adalah menderasnya insipirasi-inspirasi kebaikan yang kemudian bisa kita jadikan sebagai bahan menulis.

Selanjutnya, inspirasi itu bisa kita manfaatkan untuk menulis di mana saja, bisa di media sosial seperti facebook, atau di blog, seperti di wordpress atau blogspot. Demikian, semoga coretan singkat ini bisa bermanfaat memantik insipirasi dari pembaca sekalian. Mari berburu dan berbagi inspirasi!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s