Kelahiran Anak Ketiga

Alhamdulillaahirobbil’alamiin, anak ketiga kami akhirnya lahir pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 kemarin. Lahirnya di kampung saya, Blora, Jawa Tengah. Setelah melalui proses panjang, melelahkan, dan menyiksa, akhirnya proses kelahiran dilakukan dengan prosedur operasi sesar. Atas kehendak Allah, lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dengan berat 3,1 kg dan panjang 49 cm. Sekali lagi, alhamdulillaah.

Malam Sabtu itu, istri saya tidak bisa tidur. Gelisah karena menahan sakit yang sebentar datang sebentar menghilang. Hingga paginya, kami berdua pun pergi ke rumah sakit daerah, langsung menuju UGD. Karena tidak terlalu darurat, demikian menurut petugas jaga UGD, akhirnya saya diminta ke Puskesmas terlebih dahulu untuk mengurus surat rujukan. Lho, kok? Iya, karena saya menggunakan layanan BPJS (maklum, pegawai negeri).

Sampai di Puskesmas, walaupun hanya meminta surat rujukan, saya harus mengikuti antrian pendaftaran pasien. Menurut saya, harusnya ada mekanisme antrian khusus untuk mendapatkan rujukan yang pasiennya ada di tempat lain. Ah, sudahlah. Ikuti saja antriannya. Meskipun cukup lama, apa boleh buat. Inilah risiko menjadi anggota BPJS. Bagi Anda yang juga anggota BPJS, jangan lupa fotokopi kartu BPJS dan KTP ya, biar ndak terkesan ‘dipingpong’ kesana kemari (karena disuruh fotokopi di luar area puskesmas). Hehe..

Setelah mendapat pelayanan di bagian resepsionis, saya diminta menunggu di ruang antri kesehatan ibu dan anak (KIA). Beberapa menit menunggu, akhirnya saya dipersilakan masuk ke ruang periksa. Hah, cowok mau diperiksa apanya ya di ruang KIA???

Saya pun mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan saya. Intinya, saya minta rujukan. Tetapi rupanya ada yang missing. Pihak puskesmas meminta indikasi apa yang ditulis di surat rujukan tersebut. Nah, saya bingung soalnya di UGD tadi saya hanya disuruh untuk minta rujukan. Sudah.

Karena terjadi kebuntuan, saya pun meminta pihak puskesmas untuk menghubungi UGD di rumah sakit tadi. Dan, permasalahan pun clear, walaupun saya sempat dianggap ‘bodoh’. “Njenengan sudah dikasih tahu, tapi ndak mudheng,” kata beliau yang di puskesmas. Dalam hati saya berkata, “Lha wong tadi disuruh minta rujukan saja kok, ndak ada penjelasan-penjelasan yang harus saya sampaikan ke puskesmas.” Ya sudahlah, saya tidak membantah, karena prinsip saya berbantah-bantahan untuk hal yang tidak bermanfaat itu saya hindari. Berikutnya, surat rujukan ada di tangan saya. Saya meluncur kembali ke rumah sakit.

Di rumah sakit, istri saya sudah dibawa ke ruang persalinan. Hingga pukul 14.00 tidak ada kemajuan, hanya pembukaan 4 terus dari tadi. Keputusan pun diambil: operasi sesar. Sekitar pukul 15.35 sore istri pun masuk ruang operasi. Bayi lahir pukul 16.00. Istri saya lanjut operasi MOW hingga selesai pukul 17.26 WIB. Alhamdulillaah. Perawatan dilanjutkan hingga kami boleh pulang pada hari Selasa, sekitar pukul 14.30 WIB.

Demikian sekilas info kelahiran anak ketiga saya. Mohon doa restunya semoga menjadi anak yang shalih, berbakti kepada orang tua, berguna bagi nusa dan bangsa. Aamiin.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s