Consistency Is The Key

Wuih, judulnya pakai bahasa Inggris. Ndak papa, biar kekinian sedikit. Meskipun isinya juga masih menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit baik dan agak benar. Hehe… Kali ini saya akan menulis sedikit tentang konsistensi. Tapi tentu saja tidak to the point. Ada sedikit cerita yang ingin saya rangkai di postingan pagi ini.

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah survei yang namanya adalah survei pengukuran tingkat kebahagiaan aka SPTK. Di survei ini, pemerintah ingin melihat sejauh mana tingkat kebahagiaan masyarakat. Ada banyak pertanyaan yang digunakan untuk dapat merumuskan tingkat kebahagiaan seseorang. Tentunya pertanyaan-pertanyaan itu hasil kajian yang mendalam dan membutuhkan waktu yang lama. Pun standarnya disesuaikan dengan kajian-kajian kebahagiaan di tingkat dunia.

Nah, salah satu pertanyaannya yang menurut saya agak relevan dengan postingan kali ini adalah seberapa konsisten Anda melakukan pengembangan skill dan pengetahuan. Nah….. Ternyata konsistensi seseorang dalam menuntut ilmu dan keterampilan dapat mempengaruhi kebahagiaan. Ya, meskipun pengaruh itu tidak besar, barangkali. Ada pengaruh yang lebih besar misalnya keluarga dan pendapatan atau pekerjaan.

Saya lebih memfokus soal konsistensinya. Selain bisa mendukung kebahagiaan karena menimbulkan efek kepuasan menuntut ilmu, konsistensi ini rupanya juga menjadi kunci seseorang mencapai tujuan hidupnya. Entah itu tujuan yang sifatnya jangka pendek maupun jangka panjang.

Salah satu contoh tujuan itu adalah mendapatkan kebiasaan baru. Kebiasaan yang positif ya. Sebagai contoh, Mikel Jordan (mohon maaf bila ada kesalahan penulisan nama), legenda basket NBA. Konon, dia setiap hari membiasakan diri menembak ke ring basket 1000X! Wow, boro-boro seperti itu. Lha wong kita disuruh zikir tasbih 33X sehabis sholat saja belum tentu bisa konsisten.

Contoh lagi, konon Christiano Ronaldo (CR7) setiap habis sesi latihan, dia konsisten menambah jam latihannya sendiri sekitar setengah jam untuk mengasah teknik tendangan bebas. Demikian pula dengan Rashford, pemain muda di Manchester United, mengambil cara yang sama dengan seniornya itu. Hasilnya? Tendangan bebas mereka seringkali membuahkan gol-gol krusial.

Susahnya di mana? Susahnya adalah menjaga konsistensinya. Ada yang bilang (saya belum mendapatkan referensi resminya), kita harus menjaga konsistensi atas kebiasaan baru minimal 21 hari. Tanpa putus, setiap hari. Insyaallah, hari ke 22 itu akan menjadi kebiasaan kita.

“It works!,” mereka mengatakan seperti itu. Tetapi ada juga pandangan lain yang mengatakan perlu waktu 40 hari untuk kebiasaan baru. Lagi-lagi, saya belum mendapatkan referensi resminya, seperti dalil, buku atau jurnal yang menyebutkan hal ini.

Dari dua pandangan di atas, saya lebih cenderung yang 21 hari. Biar lebih cepat waktunya, hehe… Bagaimanapun juga, untuk menjaga konsistensi minimal 21 hari saja itu sudah susah menurut saya. Mengapa? Karena memang konsistensi ini adalah kunci menggapai tujuan.

Salam konsisten!

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s