Kelemahan Kita

Setiap manusia diciptakan dalam kondisi tidak berdaya. Bahkan tanpa busana awalnya. Ya, bukankah manusia dilahirkan oleh ibunya dalam kondisi telanjang dan membutuhkan bantuan orang lain? Jadi, tidak ada manusia yang tidak punya kelemahan. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, setiap manusia mendapatkan kelebihan-kelebihan yang ternyata bisa menutupi kelemahannya. Sekali lagi, menutupi kelemahan, bukan menghilangkan kelemahannya. Kalaupun bisa menghilangkannya, pasti tidak bisa 100 persen.

Demikian pula dengan kita, utamanya saya, pasti banyak sekali kelemahannya. Dalam hal apa saja, kalau mau ditelisik, pasti ketemu titik lemahnya di mana. Namun, terkadang kita sulit untuk jujur pada diri sendiri. Terlebih jika kita pada kondisi kita sedang diwawancara dalam konteks penerimaan pegawai. Misalkan kita diminta menyebutkan kelemahan, barangkali kita akan mengemas kalimat yang membuat kelemahan kita seolah menjadi kelebihan. Wow… Bagaimana contohnya?

“Mas, Anda tahu kelemahan Anda apa?”

“Kelemahan saya pak, yang paling saya rasakan, kalau sudah bekerja kadang lupa urusan yang lain sampai pekerjaan itu selesai.”

Ada juga yang menjawab, “Saya orangnya tidak sabar, Pak. Jadi kalau ada pekerjaan, penginnya mau segera saya selesaikan.”

Bahkan ada juga yang menjawab, “Saya bekerjanya lama Pak, karena saya tidak puas kalau pekerjaannya itu tidak saya periksa sampai yakin itu benar.”

Nah, jadi tahu kan? Kelemahan-kelemahan itu muncul pada konteksnya. Saat wawancara cari kerja, kelemahan-kelemahan seperti contoh di atas yang muncul. Tetapi pada saat kita bermunajat kepada Allah, mengadukan permasalahan hidup kita kepada Nya di tengah heningnya malam, niscaya kita akan menyebutkan kelemahan-kelemahan yang sesungguhnya ada.

Pun, kali ini saya ingin memaparkan kelemahan kita (baca: saya) yang menurut saya akan bermanfaat jika saya bagi di sini. Harapannya, kita semua bisa berintrospeksi kemudian terus belajar untuk menyingkirkan kelemahan itu dari hidup kita. Bukan berarti saya akan mengumbar kelemahan lalu curhat tidak efektif di media blog semacam ini. Bukan begitu. Sekali lagi, karena konteksnya adalah blog sebagai tempat berbagi, maka saya hanya hendak berbagi.

Kita (sekali lagi baca: saya) lemah dalam hal dokumentasi. Ya, dalam bekerja saya bisa menyelesaikannya, tetapi dalam hal-hal teknis itu terkadang menjadi lupa lagi jika di lain kesempatan diminta untuk mengerjakannya lagi. Mengapa bisa lupa, kan dulu sudah pernah? Lupa karena ada jeda waktu ilmu itu tidak digunakan. Padahal caranya agar tidak lupa itu sederhana: mengikatnya. Nasihat Imam Syafi’i, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Dengan kata lain, kita hendaknya mendokumentasikan langkah-langkah apa yang kita lakukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Nah, di sinilah kelemahan saya. Beberapa kali saya melakukan trouble shooting, baik di bidang teknis pekerjaan maupun di kodingan program (oiya, saya programmer juga lho), tetapi saya tidak menuliskan alur pengerjaannya. Akibatnya? Saya lebih cenderung menggunakan cara-cara orang lain yang cara-cara tersebut sudah diikat oleh pemiliknya di blog mereka.

Lho, padahal saya kan punya blog juga? Ah, blog ini sekadar untuk mengisi curahan hati dan nasihat pikiran. Tidak lebih. Kalaupun ada lebih, insyaallah itu juga bisa didapati di blog-blog yang lain.

Kembali ke kelemahan kita: lemah dalam hal dokumentasi. Sebenarnya dokumentasi ini penting sebagai salah satu metode untuk melakukan pewarisan ilmu. Dalam konteks pengetahuan, kita mendapati ada dua macam ilmu: tacit dan non-tacit. Kalau tacit itu adalah pengetahuan yang masih ada di pikiran atau otak seseorang. Misalnya, pengalaman mengerjakan sesuatu, menyelesaikan suatu masalah, dan sebagainya. Jadi untuk mentransfer ilmu jenis ini harus melalui komunikasi langsung dari orang yang bertindak sebagai sumber ilmu.

Adapun pengetahuan non-tacit, adalah pengetahuan yang sudah eksplisit. Artinya, sudah dituangkan dalam bentuk yang bisa dengan mudah dipelajari oleh orang lain. Bentuk bisa berupa buku, video, audiobook, dan lain-lain. Alhamdulillah, dengan hadirnya internet ke tengah-tengah generasi kita saat ini, pengetahuan yang sifatnya non-tacit ini sudah berlimpah. Kita tidak perlu mengalami langsung pergi ke London untuk tahu bagaimana kehidupan sosial di sana. Kita tidak perlu berguru langsung kepada guru bahasa asing karena ada buku-buku atau artikel-artikel online tentang pembelajaran bahasa asing di internet.

Untuk skup diri pribadi, saya memandang merasa perlu untuk melakukan konversi pengetahuan dari yang tacit menjadi non-tacit. Caranya satu: melakukan dokumentasi pengalaman saya menjadi dalam bentuk tertulis atau bentuk multimedia. Contoh nyatanya adalah dengan menulis artikel, menulis buku, atau membuat video sederhana yang menceritakan pengalaman-pengalaman berharga.

Bicara mengenai dokumentasi, kebiasaan mendokumentasikan suatu kegiatan atau pekerjaan ini sangat penting. Terlebih dengan tersedianya bentuk-bentuk kemajuan teknologi, bisa jadi membuat dokumentasi itu adalah sebuah tuntutan. Organisasi-organisasi modern pun akan menuntut pegawainya untuk mendokumentasikan pekerjaannya, baik dari sisi kuantitas hasilnya maupun how-to dan problem-solving-nya.

Demikian salah satu kelemahan kita (baca: saya), semoga ke depan bisa membuat kita sadar bahwa mendokumentasikan itu penting. Jadi, bolehlah kita membuat sepasang tagline ‘yang penting mendokumentasikan’ dan ‘mendokumentasikan yang penting’. Sekian, semoga bermanfaat!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s