Verba Volant, Scripta Manent

Ungkapan latin pada judul tulisan ini berarti “ucapan akan hilang, namun tulisan tak akan hilang.” Saya mendapatkan ungkapan ini dari tulisan Pak Anies Baswedan ketika memberi resensi pada buku Pak Prijanto yang berjudul “Andaikan Aku atau Anda, Gubernur Kepala Daerah.” Sebagai informasi, kala  buku itu diterbitkan, tahun 2011, Pak Anies adalah seorang akademisi (Rektor Universitas Paramadina) sekaligus penggiat Gerakan Indonesia Mengajar. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah ungkapan tersebut masih relevan di zaman serba digital sekarang?

Saya mencoba mencari awal mula ungkapan ini lahir, tetapi hingga sekarang belum menemukannya. Saya berasumsi bahwa orang yang melontarkan ungkapan ini adalah orang yang mencoba menelisik masa lampau tetapi merasa kesal lantaran tidak ada jejak-jejak tertulis yang bisa dijadikan patokan. Jadilah dia bertekad untuk menuliskan pengalamannya agar catatannya bisa berguna bagi orang-orang setelahnya.

Zaman terus bergulir, banyak tulisan yang pada akhirnya memang bermanfaat untuk para pembacanya di kemudian hari. Nilai-nilai positif dapat terus dilestarikan karena salah satunya didukung dengan dokumentasi tertulis. Jiwa tokoh-tokoh terdahulu masih dapat kita rasakan auranya karena kita telah membaca karyanya atau tulisan-tulisan tentanag mereka. Sebut saja pemikiran Bung Karno, Muhammad Natsir, Pramudya Ananta Toer, Bung Hatta, dan lain sebagainya. Kita masih dapat menelaah dan memanfaatkan ajaran-ajaran yang mereka yakini sebagai kebenaran dan kemuliaan.

Sampai di titik ini, tulisan tetap relevan. Hingga datanglah satu masa di mana dunia seakan tanpa batas dengan hadirnya teknologi Internet. Perusahaan-perusahaan digital bermunculan dengan menawarkan layanan-layanan yang memberi kemudahan sekaligus memanjakan. Salah satunya adalah Youtube, penyedia layanan video dengan kapasitas yang terlihat seperti tanpa batas. Dua tahun yang lalu, Youtube Indonesia melansir statistik penggunanya yang melejit hingga 600 persen!

Dengan bentuk konten yang multimedia (audio dan visual), orang semakin mudah mencerna informasi yang disajikan. Jangan heran jika kemudian mewabah video blogging atau vlog. Bahkan, Pak Jokowi, orang nomor satu di republik ini, dan juga anaknya adalah beberapa di antara sekian banyak pelaku vlogging ini. Tengoklah video beliau ketika menjamu Raja Salman beberapa waktu yang lalu. Orang tidak perlu membaca tulisan untuk mengetahui sejarah bahwa Raja Salman mengunjungi dan menikmati Indonesia pada tahun 2017.

Justru sekarang muncul kecenderungan organisasi-organisasi seperti berlomba untuk menyediakan konten-konten pemikiran mereka dalam bentuk audiovisual melalui Youtube atau Facebook. Yang paling getol di antaranya adalah organisasi-organisasi yang berkecimpung di dakwah Islam, yang kini menyajikan materi-materi dakwahnya dalam bentuk video. Yufid adalah salah satu contohnya. Ceramah-ceramahnya dikemas dalam bentuk video, tidak lagi hanya bentuk tulisan. Walhasil, pengguna dapat dengan mudah menyimaknya di sela-sela kesibukan masing-masing.

Beberapa bulan lalu (Maret 2017), Google, yang memiliki Youtube saat ini, mencatatkan bahwa ada peningkatan durasi menonton video dan jumlah konten yang diunggah. Di Indonesia, durasi menonton meningkat 155% dan jumlah konten bertambah hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa budaya menonton video masyarakat semakin naik seiring dengan meningkatnya penetrasi pengguna internet, utamanya melalui gawai pintar.

Jadi, menurut Anda, masihkan ungkapan ‘verba volant, scripta manent‘ relevan di era digital sekarang ini? Kita tidak dapat hanya mengandalkan tulisan semata di zaman di mana tulisan menjadi sarana nomor satu sebagai media penyebaran hoax (kabar bohong). Media apapun, utamanya audiovisual yang di waktu-waktu mendatang justru akan menjadi media keabadian karena lebih mudah melekat di benak dan ingatan seseorang.

Namun, di dunia akademik, tulisan masih tetap satu-satunya media untuk mengabadikan buah pikiran seseorang. Jadi, kali ini ungkapan latin tersebut masih tetap relevan. Bagi akademisi, menulis adalah syarat utama agar karyanya tetap abadi. Ada semacam kultur ilmiah yang mana ini merupakan tingkatan tertinggi kebudayaan berpikir manusia karena semua kontennya merupakan buah pikir yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada hoax di dunia akademik. Jangankan hoax, plagiasi karya ilmiah saja merupakan dosa besar yang tak termaafkan.

Kesimpulannya, relevansi ungkapan latin di atas bersifat kontekstual. Keabadian buah pikiran akan terus ada selama dia bisa ditransfer ke orang lain, apapun bentuknya. Bisa tulisan, gambar, dan tentu saja audio dan video. Selamat berkarya dalam bentuk-bentuk yang baru saja saya sebutkan tadi. Jika karya Anda adalah kebaikan, niscaya kebaikan itu akan abadi, tidak berhenti pada selesainya umur Anda di dunia.

Semoga bermanfaat!

Referensi:

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Bahasa, Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s