Buah Simalakama Kemkominfo

Sedang ramai di mana saja, utamanya di jagat medsos, bahwa Kementrian Komunikasi dan Informasi RI mengeluarkan instruksi blokir untuk aplikasi pesan bernama Telegram. Sampai saat ini, tahap blokir masih di tataran layanan berbasis webnya. Untuk layanan yang tertanam di perangkat mobile, hingga tulisan ini saya buat, masih berfungsi normal.

Salah satu dalih mengapa Kemkominfo mengeluarkan instruksi ini adalah dijadikannya Telegram sebagai sarana penyebaran informasi oleh para teroris. Seperti kita tahu, Telegram memiliki fitur channel di mana setiap pengguna bisa dengan bebas membuat kanal, apapun isinya. Nah, salah satu kanal yang dianggap berbahaya adalah ajakan untuk membuat bom.

Bahkan, beberapa institusi lainnya juga mendukung langkah kementrian ini. Sebut saja Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang memang tupoksinya berkaitan erat dengan masalah terorisme dan keamanan masyarakat.

Namun, kebijakan ini menuai polemik dari masyarakat. Utamanya dari masyarakat yang selama ini memanfaatkan Telegram untuk hal-hal kebaikan. Ada yang menyebarkan virus enterpreneurship di sana. Ada juga yang mencoba membagi ayat-ayat kebaikan. Tidak kurang pula yang mengajak pada aktivitas menghafal quran. Dan masih banyak kebaikan yang lainnya.

Pada kondisi semacam ini, ibaratnya Kemkominfo sedang makan buah simalakama. Mau dilakukan salah, kalau tidak dilakukan juga salah. Jadi bagaimana? Akhirnya salah satu kebijakan diambil, untuk mencegah kemudharatan yang lebih besar.

Sebagian pihak menggunakan dalih, jika pada suatu kondisi ada efek kebaikan dan kejelekan, maka lihatlah mana yang lebih banyak komposisinya. Pada kasus telegram, misalnya, konten kebaikan jauh lebih banyak daripadai kejelekannya. Oleh karena itu, masih dari pendapat sebagian pihak ini, janganlah telegram diblokir dahulu.

Permasalahannya, komposisi yang sedikit ini, ternyata menimbulkan efek yang sangat menyedihkan. Beberapa kasus terorisme yang sudah terjadi, ternyata terbukti ada keterlibatan aplikasi telegram dalam perencanaan-perencanaan aksi terorisme. Nah… Tentu ini akan menjadi pertimbangan lain. Bukan lagi komposisi, tetapi efek utamanya dari penyalahgunaannya ini. Masyarakat tak berdosa bersimbah darah, sebagian meninggal karena bom. Duh, sedih membayangkannya.

Lantas, di postingan ini, saya ingin mencoba mengungkan perspektif lain. Umpamakan saja telegram itu seperti kumpulan orang-orang yang bermasyarakat. Ada yang berkirim pesan, itu seperti orang yang bercakap-cakap. Ada yang membuat grup, itu seperti orang membuat perkumpulan sendiri-sendiri. Ada yang membuat kanal, itu seperti orang menerbitkan buku yang siapapun bisa membacanya. Namun sayang, percakapan, perkumpulan, dan buku yang diterbitkan ini tidak ada seorang pun yang dapat mengontrolnya. Dengan demikian, telegram ibarat dunia tanpa tata aturan. Hukum yang berlaku hanya satu: suka boleh ikut, tidak suka tinggalkan.

Pada kondisi semacam itu, bagaimana Kemkominfo bertindak? Setelah mencoba melobi tuhannya telegram (baca: pencipta telegram), ternyata tidak ada hasil yang memuaskan. Akhirnya, Kemkominfo mengambil tindakan seperti apa yang sudah kita ketahui bersama: Blokir.

Padahal, kalau mau lebih bijak, Kemkominfo juga bisa memperlakukan hal yang sama seperti dunia nyata. Bekerja sama dengan Polri dan BNPT, Kemkominfo dapat menginisiasi mekanisme intelijen untuk menangkap teroris yang bergentayangan di dunia telegram. Mungkin saja bisa dibentuk tim yang memata-matai kanal atau grup berbahaya dengan mengirim satu anggota yang menyamar sebagai anggota grup. Dan selanjutnya, orang dengan pengalaman intelijen tentu lebih mengerti dan paham.

Mengapa saya ajukan perspektif di atas? Karena saya khawatir bahwa acara tradisi blokir-memblokir ini akan menjadikan kemunduran dalam kehidupan kita terutama dalam dunia teknologi. Padahal, bisa jadi capaian kita yang seperti ini, adalah impian kakek nenek kita puluhan tahun yang lalu. Dan, satu lagi, jadikanlah blokir-memblokir ini jalan terakhir atas persoalan yang mendera kita. Negara lain memang memblokir, karena itu memang cara terakhir yang mereka punya. Negara kita? Masak juga kehabisan akal seperti mereka?

Ah, itu dulu ocehan pagi ini, semoga tidak membuat pening kita semua. Cukup saya saja. Hehe….

Informasi lebih lanjut:

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s