Lompatan Nasib

Nasib kita sudah ditentukan. Benarkah demikian? Memang benar, karena itu semua sudah tercatat pada sebuah catatan bernama Lauh Mahfuz. Tetapi, kita masih bisa mengubah catatan nasib tersebut, tentu saja dengan ihtiar dan doa kepada Sang Pemilik Catatan itu. Apakah benar hanya dua hal itu saja yang kita butuhkan? Ihtiar dan doa? Sepertinya memang demikian.

Doa, semua orang yang beragama juga paham bahwa kita dianjurkan untuk berdoa jika mengharapkan sesuatu. Dalam Islam, tidak sedikit ayat Quran ataupun hadits nabi yang mencontohkan lafaz doa dan bagaimana etika memanjatkannya. Di postingan ini, bukan kapasitas saya untuk menuntut Anda semua dalam hal doa. Saya sendiri pun masih perlu banyak evaluasi dan koreksi atas kebiasaan berdoa saya.

Untuk ihtiar, saya justeru ingin mengutarakan opini ringan tentang bagaimana kita bisa melakukan ihtiar yang efektif dan efisien untuk perubahan dan perbaikan nasib. Ihtiar-ihtiar kategori ini selanjutnya saya anggap sebagai upaya untuk melakukan lompatan nasib. Mengapa lompatan? Karena ada perubahan nasib yang cukup kentara jika kita berhasil melakukan ihtiar tersebut.

Sebagai contoh, kita melakukan ihtiar untuk bisa menyetir mobil. Setelah kita bisa menyetir mobil, niscaya nasib kita akan berubah. Dengan kemampuan menyetir mobil, kita dapat kesempatan untuk menjadi seorang sopir yang barangkali itu jauh berbeda kondisinya dengan kita yang sebelumnya. Atau juga kita tiba-tiba termotivasi untuk membeli mobil sendiri untuk keperluan mobilitas keluarga dan sanak famili.

Contoh lain lagi, kita berihtiar untuk memiliki paspor. Ketika paspor sudah sah ada di tangan kita, sangat mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri baik dengan biaya sendiri maupun biaya pihak lain. Biaya pihak lain di sini misalnya ada tawaran tugas dari kantor untuk perjalanan dinas ke luar negeri.

Contoh ihtiar untuk lompatan nasib adalah berupaya untuk bisa membaca buku secara efisien. Dengan kemampuan membaca buku yang cepat dengan pemahaman yang cepat, kita bisa dengan mudah dan enak melahap buku-buku bacaan. Walhasil, wawasan kita akan mudah bertambah dalam waktu singkat. Apalagi sekarang buku-buku milik perpusnas sudah mulai dialihmediakan menjadi buku digital yang bisa kita pinjam secara gratis. Coba tengok aplikasi iPusnas jika Anda tidak percaya. Saya termasuk pengguna aplikasi ini dan mendapat predikat bookworm dalam waktu kurang dari satu minggu.

Contoh lainnya mungkin adalah menulis di media massa. Jika kita tercatat sebagai penulis di media massa, itu berarti bahwa kita sudah dikenal oleh publik atas kepakaran kita di suatu bidang. Sangat terbuka kemungkinan jika selanjutnya kita akan diminta menjadi pengisi rubrik tertentu, atau diminta menjadi pengisi suatu seminar tentang topik yang kita tulis. Bisa saja kan?

Sebelas dua belas dengan menulis di media massa, menulis buku juga akan memberi efek lompatan nasib. Ada seorang kenalan saya yang dari menulis buku ia bisa membeli rumah dan mobil. Nasib orang, siapa yang tahu?

Contoh-contoh yang lain, pasti masih banyak. Tulisan ini hanya mencoba menginspirasi dengan bentuk yang sederhana. Selanjutnya, saya mengajak diri saya sendiri juga Anda semua untuk menemukan bentuk ihtiar yang akan menjadi lompatan nasib dalam kehidupan. Selamat berihtiar!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Cerita Inspirasi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s