Tantangan yang Terpinggirkan

Saya mau curhat. Bukan kepada Anda sekalian, para pembaca blog ini. Bukan, tetapi curhat kepada diri sendiri. Kalau curhat kepada Anda, tentu saya hanya akan mendapat zero input, karena para pembaca tidak mengenal saya secara pribadi. Maksud saya, pembaca tidak akan menanggapinya lantaran tidak ada kedekatan hati antara saya dan pembaca. Cieeh…

Tapi, kenapa juga di-publish di sini? Nanti pembaca bisa baca curhatan saya dong? Ya ndak papa, memang dalam hati kecil saya ada harapan agar pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita yang saya paparkan.

Mulai curhat ya..

Beberapa waktu lalu, saya memproklamirkan tantangan menulis untuk diri sendiri. Isinya, saya akan rajin menulis, setidaknya di blog ini. Minimal, caranya dengan merampungkan draft-draft tulisan yang berserakan di dalam blog saya. Sebenarnya mudah, bukan? Hanya membuka draft lalu melanjutkannya dengan tiga atau empat paragraf. Selesai, tekan tombol publish.

Namun, ternyata tantangan tersebut tidak jua bisa saya jawab. Satu dua draft memang sempat saya tuntaskan. Selebihnya, membuka draft pun saya tidak berkenan. Justru saya lebih memilih untuk membuat cerita baru berdasar lintasan ide yang sebentar muncul lalu lupa.

Ah, mungkin saja karena ada bakat tidak konsisten pada watak saya. Saya yakin, di antara kita, saya dan Anda semua, memiliki watak tersebut: tidak konsisten. Akan tetapi, ada beberapa orang yang mampu mengalahkan bakat negatif tersebut dan mentransformasikannya menjadi watak positif: konsisten.

Saya ingin mencontoh orang-orang seperti mereka yang konsisten dalam menjalani aktivitas sehari-harinya. Caranya bagaimana? Berusahalah untuk konsisten dengan meminimalkan peluang-peluang menunda pekerjaan. Itu memerlukan kesadaran positif.

Tetapi tidak di semua waktu kita memiliki kesadaran positif. Iya, memang begitu. Oleh karenanya, kita juga harus bisa mensiasatinya dengan cara melakukan hal-hal positif yang sederhana. Misalnya, membaca buku, menulis cerita, mengaji Quran, dan sebagainya. Insyaallah, kesadaran positif itu akan muncul.

Dan, kini saatnya saya mencoba lagi menjawab tantangan-tantangan yang beberapa waktu saya lontarkan untuk diri sendiri. Nawaitu, semoga semua tantangan yang terpinggirkan itu kembali ke jalurnya dan mendapat jawaban yang melegakan. Dengan begitu, mood akan hadir kembali di perasaan saya. Mulai kini, jangan pernah lagi katakan, “saya lagi nggak mood.”

Semoga bermanfaat!

Pos ini dipublikasikan di Catatan, Cerita Inspirasi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.