Efek Pornografi pada Otak

Akhir bulan lalu beredar sebuah pernyataan menyentak dari seorang komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengenai paparan pornografi pada anak-anak SD di Indonesia. Adalah Sitti Hikmawatty, yang mengutip hasil penelitian Kemenkes akhir 2017 di Aceh, DKI, Jawa Tengah, dan DIY,  bahwa sekitar 91,58% anak sudah terpapar pornografi. Anak-anak yang mengalami adiksi (kecanduan) ringan pornografi sebanyak 6,30% sedangkan yang mengalami adiksi berat mencapai 0,07%.

Jika melihat jumlah sampel yang diteliti, sekitar 6.000 anak, maka ada sekitar 378 anak kecanduan ringan dan 5 anak kecanduan berat akan pornografi. Na’udzu billahi min dzaalik! Semoga Allah melindungi anak-anak kita dari paparan pornografi. Wajar saja jika kemudian ibu komisioner tersebut menitipkan pesan kepada para orang tua agar mendidik anak-anaknya terkait dengan penggunaan gadget yang disinyalir merupakan sarana utama penyebaran pornografi.

Ada lagi penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tahun 2017. Temuannya tidak kalah mencengangkan, sekitar 97% dari 1.600 anak kelas 3-6 SD yang diteliti, sudah terpapar pornografi langsung maupun tidak langsung. Di antara anak-anak yang terpapar tersebut, ada mereka yang dikategorikan teradiksi, yaitu yang sudah terpapar 20 hingga 30 kali.

Apa Itu Pornografi

Sebenarnya, apa itu pornografi? Menurut UU no 44 tahun 2008, pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Sementara itu, KBBI juga mencantumkan lema pornografi dengan artinya adalah (1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; dan (2) bahan bacaan yang dengan sengaja  dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.

Dampak Sosial

Mengenai dampak sosial pornografi, berita-berita di media massa sudah begitu banyak menjelaskannya. Semua dampak itu adalah bernuansa kriminalitas. Ada pelecehan seksual, pemerkosaan, perselingkuhan, pergaulan bebas, pengguguran kandungan, hingga pembunuhan. Yang lebih parah dan membuat miris kita semua adalah berita- berita kriminal akibat pornografi yang melibatkan anak-anak. Akan dikemanakan masa depan bangsa kita jika anak-anaknya sudah dirusak dengan cara seperti itu?

Dampak pada Otak

Dampak sosial yang terjadi akibat paparan pornografi biasanya diawali dengan adanya kerusakan otak pelakunya. Kerusakan otak inilah yang kemudian membuat seseorang melakukan tindakan di luar kendali akal sehatnya. Akalnya telah dikalahkan oleh nafsu berahinya yang terpicu oleh paparan pornografi tersebut.

Secara ilmiah, pornografi memang menjadi racun bagi otak. Menurut Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta, kerusakan otak akibat pengaruh pornografi hasilnya sama dengan kerusakan akibat benturan saat tabrakan keras pada mobil. Hal tersebut dilihat dari kondisi otak dengan menggunakan mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Pre Frontal Cortex (PFC) akan rusak ketika anak melihat pornografi. Padahal PFC adalah pusat nilai, moral, tempat di mana merencanakan masa depan, tempat mengatur manajemen diri. Bagian otak alis kanan atas inilah yang menentukan jadi apa seorang anak nantinya. Karena itulah PFC juga disebut direktur yang mengarahkan kita. Demikian menurut paparan Elly Risman.

903945_20140423123001

Pada kesempatan lain, Elly menjelaskan bahwa konten pornografi yang ditangkap oleh mata langsung masuk ke sistem limbik di otak kecil, yang kemudian merangsang hormon dopamine, seperti ketika orang mengonsumsi narkoba. Efeknya menimbulkan kecanduan. Pada saat bersamaan, tubuh mengeluarkan hormon kenikmatan seperti hormon yang muncul ketika orang sedang bersetubuh. Meski proses itu terjadi di otak kecil, kerusakan terjadi di otak bagian depan (prefrontal cortex/PFC). Tepatnya, di atas alis mata ke arah kanan yang fungsinya membuat perencanaan, kontrol diri, mengatur emosi hingga mengambil keputusan.

”Gambarannya, ibarat lengan yang selalu dilatih untuk mengangkat barbel dia akan menjadi besar, sementara bagian yang lain, kaki misalnya, tidak dilatih, akan mengecil. Demikian juga dengan otak di bagian depan tersebut,” kata Elly.

Kerusakan otak bagian depan ini, dikatakan Elly, sangat berbahaya. Sebab, fungsi-fungsi otak sebagai pembuat perencanaan, kontrol diri, pengatur emosi, dan mengambil keputusan tidak dapat dilakukan dengan baik. Padahal, fungsi-fungsi inilah yang membedakan manusia dengan binatang. ”Kalau sudah rusak, manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Itulah mengapa dia berpotensi melakukan kekerasan, termasuk kekerasan seksual,” kata Elly.

Otak manusia ternyata bisa tidak berfungsi jika terlalu sering melihat sesuatu yang berbau porno. Dilansir dari Sexualrecovery, berikut beberapa gejala orang mengalami kecanduan pornografi:

  • Ketidakmampuan untuk menghentikan perilaku kecanduannya, walaupun pernah mencoba sebelumnya
  • Merasa tersinggung atau marah bila kegiatannya dihentikan
  • Menyembunyikan atau berusaha untuk menjaga rahasia dari semua kegiatan pornografi yang dilakukannya
  • Tetap melanjutkan kegiatan pornografi meski sudah kehilangan hal berharga dalam hidupnya, seperti hubungan asrama atau kehilangan pekerjaan
  • Lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang berbau pornografi ketimbang hal lain yang lebih penting.

Sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Psychiatry tahun 2014 menemukan melihat pornografi secara teratur tampaknya menumpulkan respon terhadap rangsangan seksual dari waktu ke waktu. Para peneliti Jerman menjelaskan, pria yang menonton pornografi dapat menyusutkan otak mereka. Daerah striatum otak, terkait dengan motivasi dan penghargaan respon, menyusut dalam ukuran yang sangat signifikan.

 

Sumber:

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.