Nasi Kucing, Halal atau Haram?

nasi-kucingBeberapa waktu yang lalu, anak sulung saya bertanya untuk mengonfirmasi pengetahuannya. Dia berkata kepada ibunya, “Mah, kucing itu haram dimakan kan ya?”

Ibunya mengangguk, tanda setuju. Lalu si anak melanjutkan pertanyaannya, “Jadi, nasi kucing yang dijual di tenda-tenda itu haram juga kan ya?”

Ibunya, juga saya, mengernyitkan dahi. Kami membatin, pasti anak ini menganggap bahwa nasi kucing yang menjadi komoditi unggulan penjual nasi jalanan itu berupa nasi dengan lauk daging kucing. Mungkin saja anak ini menganalogkan dengan nasi ayam atau nasi ikan yang biasanya diwujudkan dalam rupa nasi dengan lauk ayam atau ikan.

Saya dan istri pun tertawa, sedikit terbahak. Saya menjawab, “Kalau begitu lain kali kita jalan-jalan ke warung penjual nasi kucing, ya… Kita buktikan ada daging kucingnya atau tidak.”

Istri saya menambahkan, “Nasi kucing itu hanya istilah, sayang. Nasi yang dikemas dalam porsi yang sangat kecil. Karena porsi yang kecil itulah disebut dengan nasi kucing. Kan dulu orang kalau punya piaraan berupa kucing, diberi nasi dengan porsi yang sangat kecil. Tidak ada sekepal tangan bahkan…”

Hehe, bisa lucu juga anak saya kali ini…

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.