Jika (Tiba-Tiba) Kau Harus Pergi

Tulisan kali ini sedikit bersifat mengajak merenung. Merenung tentang kehidupan kita yang sangat singkat. Jika dihitung dalam tahun, tidak sampai menyentuh angka dengan tiga digit. Ambil saja rata-rata 63 tahun, seperti umur ketika Nabi Muhammad wafat.

Perenungan kali ini adalah dengan tujuan agar kita tidak membiasakan sikap menunda, tetapi lebih mengedepankan segera menyelesaikan pekerjaan. Agar tidak ada tanggung jawab tertinggal untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Entah itu teman kita, saudara kita, orang tua kita, anak-anak kita, istri atau suami kita, dan lainnya.

Mengapa tidak boleh menunda selagi ada kesempatan? Mari kita renungkan hal berikut. Jika tiba-tiba kita harus pergi ke suatu tempat untuk melakukan hal lain selain pekerjaan yang sedang kita emban. Tiba-tiba orang yang kita sayangi sakit, atau bahkan kita sendiri yang tiba-tiba sakit. Tentu kita tidak bisa melanjutkan menyelesaikan pekerjaan.

Atau kemungkinan lainnya, jika tiba-tiba kita tidak bisa melihat matahari terbit di keesokan harinya. Dengan kata lain kita meninggal dunia tanpa ada tanda-tanda atau peringatan sebelumnya? Apalagi panggilan Tuhan untuk meunghadap-Nya itu akan selalu menjadi misteri, baik dari wisi waktu, tempat, mapun caranya. Semoga Allah memberi kita karunia berupa husnul khotimah, akhir yang baik dalam kehidupan kita.

Mengapa tidak boleh menunda? Mari kita renungkan tentang filosofi kesempatan. Saya mendapatkannya dari ebook yang ditulis oleh Merry Riana, ‘Dare to Dream Big.’ Analog yang sangat mengena, menurut saya.

Ada pengusaha kaya yang menyiapkan uang satu milyar untuk Anda. Anda tidak diminta untuk menyelesaikan suatu pekerjaan untuk mendapatkan uang itu. Yang perlu Anda lakukan Adalah Anda harus datang ke apartemennya dalam waktu 1 X 24 jam mulai dari sekarang, tidak boleh terlambat. Begitu Anda terlambat walau hanya satu detik, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Sama sekali, bahkan uang satu rupiah pun tidak akan Anda dapatkan.

Anda bisa membayangkan permisalan di atas? Tentu Anda akan berusaha mati-matian memanfaatkan waktu yang hanya 24 jam tersebut untuk menemui si pengusaha. Demi apa? Demi mendapatkan uang banyak dalam jumlah yang fantastis dengan cara yang gratis.

Seperti itulah filosofi kesempatan. Begitu waktu terbuang percuma, kesempatan itu melayang tanpa kompromi. Dalam konteks pekerjaan, begitu Anda tidak bisa menuntaskan pekerjaan pada hari Senin, misalnya, kesempatan yang sangat mungkin Anda dapatkan tiba-tiba hilang. Kesempatan bertemu dengan orang yang Anda kagumi hilang, kesempatan untuk mendapatkan insentif besar melayang, atau mungkin kesempatan untuk mendapat kepercayaan mengemban amanah baru pun tinggal angan-angan.

Begitulah, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari tulisan yang sangat sederhana ini.

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.