Mendendam Kebaikan

Akhir pekan lalu, agenda yang sudah saya rencanakan sebelumnya ternyata disisipi aktivitas dadakan yang sama sekali tidak bisa saya tinggalkan. Ya, pagi harinya saya mendapatkan kabar bahwa ibu salah seorang teman saya ketika sekolah di SMP, meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun. Untuk yang satu ini, mau tidak mau, saya harus meluangkan waktu mengingat kerabat ibu saya memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhumah tersebut. Jadi, takziah saya ke sana sekaligus menemani ibu.

Ada satu cerita yang ingin saya bagikan di sini. Sesampainya di pemakanan, di tengahi rintik gerimis yang mungkin membuat kepala sebagian orang seusia saya terasa pening, ada seorang kawan lama di sana. Saya mendekat, bersalaman, saling merapatkan bahu sembari memandang ke arah para pekerja gali kubur yang mulai memasukkan tanah liat yang kian liat karena air hujan.

Umurnya sudah sepuh. Ucapannya lirih. Terpancar kebijakan yang luar biasa dari sorot matanya. Kesabarannya menghadapi liku kehidupan, luasnya pengalaman karena perantauannya. Oiya, saya ketemu beliau ketika saya masih tinggal dan menetap di Palu, sekitar 10 tahun yang lalu. Saya sendiri tidak bisa mengingat seratus persen di mana dan kapan kami bertemu.

Dalam senyap suasana pemakaman, kami berbincang. Beliau mengisahkan tentang keluarganya, perjuangannya, juga sedikit cerita tentang bencana alam yang merenggut sebagian kebahagiaan orang-orang di bumi Tadulako, kota tempat kami dahulu pernah singgah dan mencari sesuap nasi. Rinai hujan pelan membasahi wajah saya. Sesekali, saya mengusap rambut dan wajah, selayaknya orang yang sedang bersuci. Sementara kawan saya, dia sudah bersiap sebelumnya. Ada jas hujan menutup kepala dan badannya. Syukurlah, batin saya. Kalau saya mah, biar saja. Toh, hujan menyehatkan.

Pada saat pulang dari pemakaman, beliau menawarkan boncengan kepada saya untuk kembali ke rumah duka. Ibu saya masih di sana. Demikian pula kendaraan sepeda motor masih terparkir di sana. Tawaran itu saya terima, mengingat jarak dari makam hingga rumah duka cukup memakan waktu, sekitar setengah kilo.

“Saya turun sampai pertigaan saja, ya,” ucapku sembari menyetujui ajakannya untuk diantar.

“Tidak. Mari saya antar sampai sana,” tukasnya.

Saya menurut. Kemudian melanjutkan untuk mendengarkan kisah dari sudut pandang lain seorang yang sudah teramat dewasa menyikapi hidup.

“Saya punya pengalaman, dahulu pernah diantar kawan. Sayangnya, saya diantar hingga suatu tempat yang mengharuskan saya untuk berjalan kaki lagi menuju rumah.”

Ada jeda. Sepertinya ia menghela nafas. Tidak jelas, karena masih ada rintik hujan yang menyela uraian kisahnya.

“Sejak saat itu mas, saya bertekad jika memang saya mengantarkan seseorang suatu saat nanti, saya harus sampaikan ke tujuan orang tersebut,” pungkasnya.

Akhirnya, sampailah kembali saya ke rumah duka. Rumah kawan saya yang sekarang berkurang satu kisah manusia di dalamnya. Semoga ibunya husnul khotimah.

Untuk kawan lama saya, terima kasih atas untaian nasihat yang sangat bermakna meski dibingkai hanya peristiwa yang sederhana. Ternyata, di dunia ini ada juga yang mendendam kebaikan. Ah, indah juga ya mendendam kebaikan.

Lalu, dendam kebaikan apa yang ingin Anda letupkan?

Salam semangat!!!

 

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.