Sedikit Sedikit Lama-Lama Menjadi Bukit

Kutipan ini pasti sudah pernah kita dengar waktu kecil. Dahulu, entah SD atau SMP, kita diajari sepenggal kalimat ini untuk menyemangati bahwa kita harus bersabar menjalani proses. Tidak ada yang serba instan. Tidak ada yang tiba-tiba menjadi luar biasa tanpa proses yang sedikit demi sedikit tadi. Namun, yang saya temukan, justru banyak orang yang menghendaki hasil instan, alih-alih proses yang melelahkan dan menjemukan menuju hasil tersebut. Atau, bisa jadi saya berada di lingkungan yang salah? What?!?

Apakah karena dahulu yang menyampaikan nasihat itu adalah guru SD atau SMP yang kini tidak pernah lagi kita ingat siapa beliau? Ataukah karena kala itu kita belum saatnya menerima petuah agung itu sehingga ketika masa dewasa kita tidak pernah mengamalkannya? Ataukah kita sudah lupa? Kemungkinan besar demikian, karena sangat beragam dan banyaknya informasi yang masuk ke kepala kita. Sayangnya, setiap potongan informasi itu tidak utuh kita terima.

Maksudnya tidak utuh?

Kita melihat seseorang sukses. Kita melihat profilnya, kekayaannya, kebahagiaannya tanpa tahu bagaimana dahulu dia berdarah-darah sembari mengabaikan rasa sakit di dada untuk mencapai seperti dia yang sekarang.

Kita melihat sebuah buku yang bagus, tebal, dan menjadi best seller. Kita membaca bukunya, menikmatinya, lalu juga membaca sekilas biografinya yang berisi karya-karyanya yang luar biasa. Sayangnya, kita tidak pernah tahu, seberapa banyak malam ia korbankan untuk meracik bukunya itu. Kita juga tidak tahu, berapa tahun dia habiskan waktu subuhnya untuk melatih gaya menulisnya. Bahkan, kita tidak tahu berapa kali dia menahan lapar demi menabung untuk mengongkosi petualangannya ke tempat-tempat asing demi bukunya.

Jika pun kita kemudian tahu, kita hanya berdecak kagum sembari bergumam, “Luar biasa….”

Padahal kita sebenarnya jauh-jauh hari dahulu sudah mendapatkan nasihat emas itu dalam sebaris kata-kata yang menjadi judul postingan ini: Sedikit sedikit lama-lama menjadi bukit. Frase sedikit sedikit sebenarnya mengandung makna yang dalam, yaitu istikomah alias konsistensi yang dibalut dengan disiplin.

Contoh sederhana, jika kita melakukan sesuatu, pada awalnya sedikit demi sedikit, tetapi kemudian terhenti, niscaya ketika memulainya lagi rasanya seperti memulai dari nol lagi. Itu karena tidak ada disiplin. Jika malas mendera dan kita mengalah tidak melanjutkan aktivitas yang sedikit sedikit tadi, proses awal yang sudah mulai mengukir hasil, akan menjadi sia-sia. Pasalnya, hasil yang sudah mulai ada tadi sangat mungkin tidak akan kita gunakan lagi karena kita akan memulai lagi dengan sesuatu yang baru.

Dalam membuat buku, misalnya. Cobalah memaksakan diri untuk menulis satu hari minimal satu halaman. Niscaya dalam tiga bulan kita bisa memiliki buku 100 halaman yang siap untuk disunting menjadi sebuah karya yang layak dipublikasikan. Tetapi, kuncinya hanya satu: konsistensi dan disiplin menjalani proses.

Percayalah, pada akhirnya hasil tidak akan mengkhianati proses. Selamanya ia tak kan pernah mengkhianati. Beruntung proses mempercayai hal itu, sebagaimana Anda mempercayai bahwa Anda adalah hasil dari sebuah proses panjang kehidupan yang dimulai dari pertemuan ibu dan ayah Anda. Anda percaya, bukan?

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.