Reposisi Upaya Terbaik

Beberapa waktu lalu saya menyimak sebuah video singkat. Video motivasi berbahasa Inggris tersebut menginspirasi saya untuk berbenah sedikit tentang hidup ini. Ada kemudi yang perlu saya ubah arahnya beberapa derajat dalam mengarungi samudera kehidupan ini.

Setiap hari kita bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Kita bekerja keras untuk meyakinkan pada diri bahwa hasil keringat yang kita bawa pulang untuk keluarga itu benar-benar rezeki yang telah halal dengan kualitas sempurna. Jika kita mendapat hak lebih, tentu karena kita yakin sudah memberikan apa yang kita punya untuk pihak yang menjadi perantara hadirnya rezeki kita dari Allah.

Lantas, dalam setiap penggal aktivitas kita dalam bekerja, segenap upaya kita hadirkan. Kita mengupayakan semua hal secara maksimal untuk hasil terbaik demi organisasi tempat kita bekerja. Dalam konteks pekerjaan saya, misalnya, melakukan pendataan sebaik mungkin dengan memenuhi semua SOP sebisa mungkin dengan satu tujuan: kualitas data. Atau misalnya pada kegiatan lain, saya menjadi instruktur dalam sebuah pelatihan. Saya berikan apa yang telah saya dapatkan untuk diteruskan ke semua peserta. Kesabaran dan waktu sepenuhnya saya curahkan untuk menjalankan semua peran itu.

Di sisi lain, ketika saya pulang ke rumah, bertemu keluarga dan anak-anak, ternyata saya tidak memberikan yang terbaik apa yang saya miliki. Kebersamaan dengan anak-anak sebatas bercanda dalam momen yang singkat. Menggendong anak-anak, memeluk mereka sebatas menghapus kerinduan yang ada di benak dan perasaan saya.

Sayangnya, saya belum sepenuhnya mengerti seberapa ingin mereka mendapatkan perhatian lebih dari ayahnya. Hingga pada detik saya harus berpikir ulang, kira-kira apa yang terbaik yang bisa saya berikan untuk mereka. Pikiran pun melayang ke masa-masa silam dari bacaan-bacaan yang pernah saya baca sebelumnya. Hal terbaik yang bisa kita tinggalkan kepada anak-anak kita adalah pendidikan.

Kita mungkin bisa meninggalkan untuk anak-anak harta benda yang melimpah. Tetapi tanpa pendidikan, utamanya agama, harta yang kita wariskan itu justru menjadi ujian yang tidak ada penangkalnya pada mereka. Pendidikan adalah penangkal sekaligus alat kontrol martabat mereka.

Tentu dalam hati kecil kita ada keinginan yang tidak bisa diingkari, bahwa kita ingin mendapati anak-anak kita menjadi orang yang berhasil. Segalanya yang terbaik bagi mereka. Tetapi untuk memahami mana yang baik untuk mereka, ada ukuran-ukuran dengan nilai universal yang harus kita anut. Ukuran universal tersebut adalah nilai-nilai kebaikan.

Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk mereposisi upaya terbaik kita menuju pemberian pendidikan kepada anak-anak. Bukan oleh orang lain, tetapi oleh kita. Oleh ayah bundanya. Oleh orang-orang yang dititipi langsung oleh Tuhan berupa kehidupan bernama anak-anak.

Mari, kita dedikasikan waktu, tenaga, pikiran, cinta, dan kasih sayang kita untuk anak-anak. Anak-anak adalah investasi terbaik yang akan melanggengkan rasa bahagia kelak di alam setelah ini melalui doa-doa yang mereka panjatkan untuk kita.

Allahummaghfirlii wali walidayya warhamhuma kama robbayaanii shoghiroo..

Semarang, 10 April 2019

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.