Ngomong Lagi dengan Orang Asing

Rabu pekan lalu, saya ada di luar kota. Di sebuah hotel yang baru sekali itu saya inapi. Hotel yang ternyata ada beberapa tamu dari luar negeri. Tidak semua hotel lho, meski sama-sama bintang, sama-sama ada di ibukota, tetapi menjadi salah satu rujukan menginap oleh para turis asing.

Kebetulan pada malam itu, saya sedang duduk di lobi. Tiba-tiba ada turis asing mau duduk di lobi hotel juga. Tetapi, pada saat dia datang ke lobi tersebut, ia menyapa saya dengan salam ‘Assalamu’alaykum..’. Saya pun membalas, untuk ia dan anak laki-lakinya yang berumur 6 tahun. “Wa’alaikum salam”

Tak lama setelah mereka duduk, saya pun memberanikan diri untuk menyapa dan bertanya-tanya.

“Excuse me, do you speak English?” tanyaku memastikan, karena saya perhatikan mereka berbincang dengan bahasa yang lain.

“Yes, a little,” jawab si bapak. Maka aku pun melanjutkan pertanyaan, basa-basi sekadar membunuh rasa penasaran. Dari mana, apakah mereka muslim karena mengucapkan salam tadi. Ataukah mengucap karena menghargai yang mayoritas Indonesia adalah muslim.

Percakapan berlanjut dengan sedikit terbata-bata, terlebih lagi dengan kemampuan percakapan bahasa Inggris saya yang masih amatiran. Dulu sebenarnya juga pernah ngobrol dengan orang korea dengan bahasa Inggris. Itu pun masih terbata. Maklum, secara de facto memang saya belum pernah menginjakkan kaki di negeri orang.

Dari percakapan yang canggung nan penuh rasa penebakan dari saya, akhirnya saya mendapat informasi beberapa. Namanya Abdullah, dari Perancis. Di sana, kata dia, muslimnya ada sekitar 3 juta orang. Dia sendiri aslinya dari Algeria alias Aljazair. Dia sudah beberapa kali datang ke Indonesia. Tentang ikon Indonesia yang sudah mendunia, yakni Bali, ia justru menyatakan tidak suka di sana. Banyak orang mabuk-mabukan, dia tidak suka itu.

Sayangnya, pada momen itu saya tidak bisa mengorek maksimal tentang dia dan seputar dia. Kemampuan saya bercakap-cakap dengan bahasa Inggris masih teramat kurang. Apalagi ketika saya merasa bahwa ada yang ingin saya sampaikan tetapi saya bingung mengucapkannya dalam bahasa Inggris. Duh…

Tapi, yang jelas saya merasa cukup puas kali itu. Mengapa? Karena saya tidak sekadar memendam dalam hati apa yang ingin saya ucapkan. Karena saya kali itu bisa membuang rasa kepo dengan langsung mengobrol dengan orang asing, walau hanya dalam hitungan beberapa menit.

Kesimpulannya? Saya, Anda, dan kita semua harus belajar terus bahasa asing agar bisa lancar berkomunikasi dengan mereka. Pasalnya, berkomunikasi dengan orang asing akan menambah wawasan keilmuan kita. Selamat belajar. Untuk saya, Anda, dan kita semua..

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.