Me Apa Yang Berat?

Tadi malam aku bercengkerama dengan anak-anak, bermain bersama dengan tajuk “Tebak-tebakan”. Seru, anak-anak sepertinya tidak mau berhenti. Bahkan, lupa menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat seperempat. Biasanya, 30 menit menjelang pukul sembilan mereka sudah kami minta untuk pergi ke tempat tidur masing-masing. Tadi malam, beda.

Tebak-tebakan kemarin kami isi dengan sebagian pertanyaan lucu-lucuan dan kebanyakan dibalut dengan guyon.

“Sapi ada yang bisa dipakai untuk mewarnai?” tanya si sulung. Ayahnya (saya — red) menjawab dengan seringai yang jelas, “Sapidollll…”

Lalu, gantian ayahnya yang memberi soal untuk anak-anak. “Sebutkan tiga saja buah yang huruf akhirnya K!”

Semua terdiam. Berpikir keras, mencari di ruang-ruang memori masing-masing, kira-kira buah apa yang huruf akhirnya K. Sudah sekian lama waktu berjalan, tak pula ada jawaban. Ayah memancing, “Menyerah?”

Mereka menolak menyerah. Tapi kalau begini caranya, tentu seru-seruannya tak akan menjadi sudah. Hehe…

“Baiklah, ayah kasih contoh satu. SALAK.”

“Iya, betul.,” jawab anak-anak hampir serempak.

“Ayo, cari dua lagi nama buah dengan akhiran K,” kejarku agar mereka berpikir lagi.

“Semangka!” teriak si kakak.

“Haha.. Itu bukan huruf K, tapi bunyi KA,” balasku.

“Baik, ayah kasih satu lagi biar kalian tidak pusing… JERUK..,” aku melanjutkan.

“Iya, betul…!” lagi-lagi mereka mengeja kalimat seru yang serupa sebelumnya.

Hingga pada akhirnya, si adik menemukan kunci pamungkas. “Sirsak!” teriaknya setengah memekik.

“Iya, betul!!” gantian si ayah yang memberi pujian untuk si adik.

Itulah penggalan acara seru-seruan tadi malam. Pada siang yang terik ini, aku justru tebersit sebuah tebakan untuk diri sendiri.

Me apa yang berat?

Lucunya, aku pula yang akhirnya akan memberi jawaban kepada para pembaca. Me itu adalah memulai. Ya, memulai.

Ini bukan lucu-lucuan. Serius. Memulai adalah hal yang berat. Aku yakin ini juga dirasakan oleh orang lain.

Memulai menyusun skripsi atau menulis tesis. Pasti berat. Ayo, siapa yang masih ingat, bahwa skripsi/tesis waktunya enam bulan tetapi baru dimulai pada bulan kelima? Hehe, berat, kan?

Memulai belajar sesuatu, juga berat. Misalnya saja nih, ingin menjadi orang yang bisa mengedit video. Kalau kita tidak memulai untuk segera membuat video pertama, tentu akan selamanya kita tidak pernah bisa membuat atau mengedit video. Sayangnya, memulainya itu berat.

Memulai untuk mengatakan sesuatu kepada orang yang kita memiliki perasaan terhadapnya. Berat. Belasan tahun silam saya sudah mengalaminya. Haha.. Kadang butuh kenekadan untuk melakukannya.

Tapi, yakinlah, kalau kita tidak memulainya segera, niscaya mimpi itu tetaplah selalu menjadi angan-angan yang entah suatu saat nanti akan terwujud atau tidak.

Berat memang. Tetapi Tuhan memampirkan ide itu ke benak kita, bukan tanpa alasan. Itu seolah Tuhan menawarkan gagasan kepada kita yang arti lainnya adalah kita mampu untuk itu. Tinggal kita mau memulainya atau tidak. Sekali lagi, memang berat.

Sekian. Yang tidak sedang berpuasa, mari makan siang.

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.