Pertanyaan Entah Untuk Siapa

Pria sepuh itu mengajakku bicara di luar konteks. Menanya-nanyaiku di luar kebiasaan dan kebisaannya sebagai dokter.

“Rencana liburan ke mana?” tanyanya.

“Ke mana, ya… Belum ada rencana. Paling ya, yang dekat-dekat saja,” jawabku sembari tersenyum.

“Liburnya panjang kan ya?” susulnya lagi dengan pertanyaan lain.

“Kalau anak-anak sih memang panjang liburnya. Sampai awal tahun baru nanti. Kalau saya, liburnya hanya ikut yang cuti bersama. Palingan dua hari itu nanti. Kalau dokter, rencana refreshing kemana?” aku berbalik mengajukan tanya.

“Refreshing saya ya itu, ikut seminar-seminar. Bagi saya sudah refreshing. Bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan itu saja sudah saya anggap rekreasi..”

Aku membalas, lagi-lagi dengan senyum. Belum melempar kata, sejenak mencerna apa yang ada di benak lelaki dengan kepala yang sudah mulai dipenuhi uban itu.

“Sebenarnya, apa sih yang kita cari dalam hidup ini?” tiba-tiba sepotong pertanyaan mendudukkan aku pada posisi membisu. Lelaki itu, dengan senyum yang aku tangkap dari guratan matanya, seperti ingin mengajak diskusi lebih serius.

“Menurut dokter bagaimana?” aku tak punya ide untuk menjawabnya, terpaksa balik bertanya. Tiba-tiba, ia mengejarku lagi. “Siap ndak, kalau tiba-tiba mati sekarang?”

Pertanyaan itu membuat kata-kataku tercekat di tenggorokan. Berusaha menjawab, tapi tak ada suara keluar. Hingga akhirnya, aku menjawab polos dengan tetap berusaha mengulum senyum, “Ya belum siap lah, dok…”

“Kenapa belum siap?” kejarnya lagi.

“Ya, karena…,” aku mencoba mencari jawaban yang lebih masuk akal. “Ya, belum siap saja menghadap. Belum cukup persiapan untuk dipanggil. Belum cukup amal..” Akhirnya beberapa kata meluncur dari bibirku.

“Nah, masalahnya belum siap.” Ada senyum kemenangan terpancar dari wajah yang separuhnya tertutup masker hijau itu. “Itu karena timbangan amal kita masih jauh lebih ringan dari dosa-dosa kita,” tambahnya sembari mengangkat kedua tangannya, yang kiri lebih tinggi dari yang kanan.

“Lalu caranya gimana, supaya yang amal ini bisa lebih tinggi dari dosa?” Aku masih tetap mematung, membiarkannya menguraikan nasihat hidupnya kepadaku.

“Semua ada ilmunya. Beragama juga begitu.” Jeda sejenak. Aku menikmati jeda itu dengan sedikit menahan nafas, menanti jawaban yang sebenarnya aku yakin pernah mendengar sebelumnya. Tapi kini entah kemana nasihat-nasihat itu. Hilang.

“Kita ndak siap mati karena dosa kita lebih banyak. Kita coba beribadah, beramal, beramal terus, tapi ternyata tumpukan dosa juga semakin tinggi. Lebih cepat bertambahnya dosak kita. Ya kan?” matanya seperti sedang mencandai aku. Tapi benar sih apa yang dikatakannya.

“Jadi, supaya siap mati sewaktu-waktu, bagaimana caranya?” Aku hanya bergeming. Menyimak sembari kagum dengan kepeduliannya mempersiapkan hari yang tak banyak dibicarakan orang.

“Tobat. Ya, dengan tobat kepada Tuhan, dosa kita kembali ke level nol. Jadi, usahakan setiap malam lakukan sholat tobat.”

Dheg!! Ah, ini konsep yang sebenarnya sudah sering aku dapatkan, di bangku sekolah maupun ceramah-ceramah di luaran sana. Tapi kenapa aku seperti mendapati hal yang baru. Ternyata, lama sekali aku tidak menyentuh gagasan yang mulia ini. Mungkin, kepenatan menjalani liku-liku hidup ini, semakin membuatku menjauh dari kata tobat. Maafkan aku, Tuhan.

“Saya belum selesai,” suaranya seperti sengaja untuk mengagetkanku yang sekilas tampak tertegun dengan hanya mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Ada lagi, amal yang mudah dan murah tapi nilainya besar. Sangat besar. Apa itu?”

Aku mencoba menjawab, sebatas apa yang pernah aku ketahui.

“Senyum pada sesama? Zikir?” aku mencoba meluncurkan beberapa jawaban yang mungkin masuk akal. Setahuku memang senyum itu sedekah. Lalu, zikir juga mendatangkan banyak kebaikan. Banyak hadits nabi yang mengulas tentang bandingan kebaikan yang didapatkan ketika seorang hamba merapal bait-bait zikir untuk Tuhannya.

“Oke, zikir. Yang mana?” tanyanya lagi

“Istighfar, subhanallah walhamdulillah.. Mungkin itu maksud dokter?”

“Ya, itu bisa. Tapi bukan itu yang saya maksud.” Jawabannya membuat pikiranku kembali berputar, kira-kira apa lagi maksud pak dokter satu ini.

“Pernah dengar, baca al-ikhlash setara dengan apa?”

“Ya, setara dengan sepertiga membaca alquran,” jawabku langsung, tanpa menjeda.

“Nah, jadi biasakan membaca al-ikhlash tiga kali setiap hari. Saya mencoba setiap sholat sendiri, membaca al-ikhlas tiga kali. Biar setara alquran.”

Aku tersenyum, mengiyakan apa saja yang baru dikatakan oleh mulut di balik kain masker itu.

“Sudah, ya. Pasien lain sudah menunggu. Ini resepnya…”

Malam kian larut. Aku sedikit memikirkannya pada saat perjalanan pulang ke rumah, dengan agak serius. Senyumku entah ke mana pada saat itu. Padahal aku tak tahu pasti, pertanyaan-pertanyaan dokter tadi, entah untuk siapa. Toh, nyatanya aku masih tetap belum siap untuk mati.

Blora, 19 Desember 2019.

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.