Jakarta Kabur Separuh

Saya sedang di Jakarta untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan kantor pusat. Pada sesi pembukaan, saya menyimak poin-poin pemaparan yang disampaikan pimpinan melalui sepasang layar raksasa yang ada di hadapan kiri dan kanan para hadirin. Lamat-lamat saya amati, sepertinya tampilannya buram. Ah, proyektornya tidak memiliki ketajaman maksimal dalam hal penyorotan cahaya. Padahal, ini hotel bintang lima, lho. Gumam saya saat itu. Tapi biarlah, masih terbaca kok.

Waktu berjalan. Pelan, tapi tidak terasa, karena segala kenyamanan dihadirkan di sana. Suhu ruangan yang sejuk dan aneka hidangannya sungguh memanjakan. Tibalah saat rehat.

Saya di kamar. Sendirian. Teman sekamar ketika itu entah sedang di mana. Di ketinggian lantai 10, dari jendela kaca terhampar pemandangan hutan beton yang jadi hiasan ibukota. Jakarta. Dari dulu tetap saja view-nya adalah barisan gedung pencakar langit. Yang dengan arogan dan dinginnya, menghalangiku dari menyapa ufuk nun jauh di sana.

Ada sebuah tulisan. Ah, mengapa itu tulisannya tidak jelas. Batin saya. Masak iya itu hasil proyeksi dari alat bernama viewer. Tak mungkin. Saya pejamkan mata. Masih tidak berubah. Tidak semakin tajam. Saya tangkupkan kedua telapak menutupi kedua mata saya. Saya buka lagi, tetap. Tulisan itu kabur, meski masih jelas terbaca.

Barulah saya mencoba, menutup satu mata. Pertama mata kiri saya tutup. Ah, mata kanan bisa melihat dengan jelas. Tajam sekali. Selanjutnya, mata kanan saya tutup dan yang kiri saya buka. Oh, ternyata gambar yang saya tangkap tidak sesempurna yang tadi. Jadi, rupanya mata sebelah kiri tidak dapat melihat dengan jelas. Lamat. Kabur. Ya, setiap obyek menjadi rangkap. Pandanganku kabur separuh. Oh, Tuhan. Ampuni aku.

Begitulah hidup. Mungkin sesekali kita perlu menyendiri, tidak selalu berjalan bersama. Sekadar untuk mengukur diri dan introspeksi, mungkin ada masalah pada diri kita ketika dalam kesendirian. Seperti yang baru saja saya rasakan. Ketika Jakarta kabur separuh dalam pandangan mata saya.

Semoga Tuhan mengampunkan segala dosa.

Jakarta. Le Meridien. 19 Januari 2020. Sampai jumpa.

 

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.